Tertangkap Bawa Senpi, Djanuardi Harus Merasakan Duduk Dikursi Pesakitan

SURABAYA – Pengadilan Negeri Surabaya kembali menggelar sidang lanjutan perkara kepemilikan senjata api jenis air softgun dengan terdakwa Djanuardi alias Janu alias Cak Gondrong (41), warga Jalan Pulosari III J25 Surabaya. Sidang yang digelar diruang sidang Kartika Pengadilan Negeri (PN) Surabaya beragendakan mendengarkan keterangan saksi penangkap dari pihak kepolisian, Selasa (9/10).

Dalam Persidangan yang dipimpin Ketua Majelis HakimPesta Ph Sitorus, SH., M.Hum, dengan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Duta Melia dari Kejari Tanjung Perak, sedangkan untuk terdakwa terlihat didampingi kuasa hukumnya, yakni Franky, SH.

Dalam keterangannya, dua anggota Polisi dari Polsek Mulyorejo yang dihadirkan Jaksa Penuntut Umum, diminta untuk menceritakan awal saat penangkapan terdakwa,

Diketahui bahwa pada Jum’at, 4 Mei 2018 terdakwa Djanuaradi ditangkap anggota Polsek Mulyorejo di Jalan Menur (depan Sekolah Ipiems), saat itu tiga Polsek sedang melakukan Operasi Cipta Kondisi gabungan.

Terdakwa Djanuaradi yang sedang mengendarai Sepeda Motor merk Honda Supra X warna hitam, nopol L-6023-VW diberhentikan petugas. Ia disuruh turun dan dimintai untuk menunjukkan kartu identitas.

Selanjutnya petugas menggeledah dan petugas menemukan senjata api jenis Airsoft gun dengan No.14Q45855 merk Dan Wesson made in Taiwan yang diselipkan dalam pakaian perut depan. Senjata api tersebut berisikan 6 (enam) butir peluru.

Saat diperiksa, terdakwa Djanuardi sempat tidak mengaku ia mendapatkan senpi dari siapa dan tidak bisa menunjukkan surat ijin kepemilikan senpi. Akhirnya terdakwa pun mengakui jika senpi tersebut ia dapatkan dari Irfan yang saat ini masih dalam pengejaran petugas Kepolisian (DPO).

Terdakwa membeli Senpi tersebut seharga Rp. 1.800.000,- (satu juta delapan ratus rupiah). Atas perbuatannya, Jaksa Melia menjerat terdakwa dengan Pasal 1 ayat (1) UU Darurat Nomor 12 tahun 1951 tentang Senjata Api (senpi). (son)