Terbongkar lagi, ‘lendir’ anak di bawah umur dipasarkan lewat Whatsapp dan Line. Beginilah akibatnya

Unit I Renakta (Remaja Anak dan Wanita) Subdit IV Ditreskrimum Polda Jatim saat merilis kedua mucikari di Mapolda Jatim.

Wartapedia, Surabaya. Lagi-lagi praktik prostitusi yang melibatkan anak di bawah umur di bongkar kepolisian. Dua orang diamankan Unit I Renakta (Remaja Anak dan Wanita) Subdit IV Ditreskrimum Polda Jatim.

Kedua orang tersebut, yang tak lain berperan sebagai mucikari adalah Putri Febria Anita (23) warga Jojoran Surabaya dan Ayu Sriwulan (19) seorang mahasiswa warga di Jalan Kapas Baru Surabaya.

Kanit Renakta Ditreskrimum Polda Jatim Kompol Yashinta Mau mengatakan, kedua mucikari ini merekrut anak-anak perempuan yang berusia antara 14 hingga 16 tahun. Para anak gadis ini, di rekrut untuk dipekerjakan sebagai PSK (Pekerja Seks Komersial).

Untuk melancarkan aksinya, kedua pelaku memanfaatkan layanan pesan singkat Whatsapp dan Line dengan memajang foto dan nama korban. Yashinta menuturkan, jika stok PSK milik tersangka Ayu habis (sedang melayani tamu lain), dirinya bisa meminta kepada tersangka Putri PSK yang lain.

“Kedua tersangka merupakan jaringan prostitusi dan perdagangan anak di Kota Surabaya. Korbannya rata-rata umur 14 hingga 16 tahun atau usia sekolah,” kata Kompol Yashinta Mau, Rabu (13/09).

Yashinta mengungkapkan, kedua tersangka membagi hasil uang bisnis lendir tersebut. Tersangka mematok tarif korban senilai Rp. 1 hingga 1,5 juta dengan sistem bagi keuntungan. Dari tarif Rp. 1 hingga 1,5 juta, tersangka mengambil untuk Rp 300 ribu.

“Caranya si pembeli memilih korban via WA maupun Line, kemudian janjian bertemu di suatu tempat dan membayar seketika itu juga,” ungkapnya.

Meski masih belia, Yashinta menyampaikan, bahwa kedua tersangka mucikari ini memiliki anak buah atau korban yang lumayan banyak. Untuk tersangka Putri memiliki anak buah yakni, EL (17), FF (17), LP (20), ME (18), KA (17), KI (16), FA (17), dan EF (14).

“Sementara tersangka Ayu memiliki dua anak buah, yakni EF (14) dan SI (16)” ujar Yashinta.

Sementara itu, tersangka Putri mengaku bahwa, layanan esek-esek ini dijalaninya baru tiga bulan terakhir. Sedangkan untuk wilayah pemasaran pemuas birahi tersebut, Putri mengaku hanya melayani pesanan atau khusus di wilayah Surabaya.

Mengenai umur korban, ia pun menjawab kalau korbannya kebanyakan masih anak sekolah. Dalam kasus ini, Putri menyangkal bahwa dirinya tidak bersalah. Putri pun bersikeras bahwa dirinya tidak bersalah, melainkan korban sendirilah yang mencari pekerjaan kepadanya.

“Kita tidak menawarkan. Tetapi anaknya (korban) yang ingin sendiri dipekerjakan dan menawarkan dirinya sendiri ke saya,” sangkalnya.

Dari tangan dua tersangka, petugas berhasil mengamankan uang tunai total Rp 2,6 juta, 3 buah HP merek Vivo, Oppo dan Andromax, 4 buah bil hotel, 1 buah ATM BNI,dan 1 lembar bukti transfer bank BCA.

Oleh : Achmad Syaiful Bahri