Sensor LPG : Alat Detektor Kebocoran Elpiji

Sensor LPG : Alat Detektor Kebocoran Elpiji

Bahan yang digunakan untuk alat pendeteksi dini kebocoran Elpiji adalah almunium zip yang dilapisi tipis dengan Zinc Oxide

JAKARTA - Himpunan Mahasiswa Prodi Teknik Fisika (HMPTF) ITB berhasil membuat detektor untuk mengetahui kebocoran LPG.

Karya rancang bangun berjudul “Pembuatan Sensor LPG Menggunakan Lapisan Tipis Zinc Oxide untuk Aplikasi Detektor Kebocoran LPG Rumah Tangga”ini berhasil menjadi juara ke 2 pada lomba karya penelitian antar Himpunan Mahasiswa di ITB pada tahun 2010.

“Sensor yang kami hasilkan bisa bekerja dalam waktu empat detik setelah kena gas LPG. Artinya, jika tabung LPG bocor maka dalam waktu empat detik bisa diteksi alat dan akan terdengar bunyi suara peringatan,” papar Silvia Phiamardiana, tim HMPTF akhir pekan lalu di Jakarta.

Selain Silvia tim terdiri dari Adrian Ashari, Dipta Yudhistira, Mikael Yuan dan Primadi Anggoro. Silvia mengungkapkan material sensor dihasilkan dengan melakukan serangkaian proses kimia di laboratorium dilingkungan ITB maupun LIPI, Bandung.

Melalui teknologi nano (nanotechnology) tim tersebut berhasil mengembangkan material Seng oksida (Zinc oxide – ZnO) sehingga membentuk nanostruktur yang memiliki permukaan yang luas sehingga sangat sensitif terhadap suatu gas tertentu, dalam hal ini LPG.

Material sensor yang dikembangkan ini sebagian bahan bakunya memang masih impor. Namun, secara keseluruhan, dibanding produk serupa asal China, alat detektor Tim HMPTF lebih murah biaya pembuatannya.

Secara umum, detektor gas LPG tersebut terdiri dari beberapa komponen sensor gas terbuat dari ZnO, power supply, rangkaian pengolah sinyal, dan buzzer alarm yang berbunyi nyaring ketika gas LPG terdeteksi melebihi level konsentrasi tertentu.

Menurut Silvia, bahan untuk material sensor yang dikembangkan ini sebagian bahan bakunya memang masih impor. Namun, secara keseluruhan, dibanding produk serupa asal China, alat detektor Tim HMPTF lebih murah biaya pembuatannya.

“Berdasarkan perhitungan, biaya produksi satu unit detektor sekitar Rp 60.000,” papar Silvia. Penelitian material sensor dilakukan di Laboratorium Advanced Functional Materials ITB.

Material sensor, menurut Silvia, berdasarkan hasil pengujian bekerja secara baik pada suhu kamar. Sedang untuk mengoperasikan detektor, material sensor perlu dipanaskan dengan heater yang membutuhkan sumber energi listrik.

“Penelitian kami memang masih terbatas untuk bisa dimanfaatkan rumah tangga,” ujar Silvia. Namun dia mengaku masih akan terus mengembangkan penelitiannya agar bisa juga dimanfaatkan tanpa membutuhkan listrik.(C8/lik)

"Suatu masyarakat paling primitif pun, misalnya di jantung Afrika sana, tak pernah duduk di bangku sekolah, tak pernah melihat kitab dalam hidupnya, tak kenal baca-tulis, masih dapat mencintai sastra, walau sastra lisan."
Magda Peters