PKBL PELINDO III: Peningkatan Kesejahteraan Masyarakat di Sekitar Pelabuhan

PKBL PELINDO III: Peningkatan Kesejahteraan Masyarakat di Sekitar Pelabuhan

Progam kemitraan bina lingkungan yang dijalankan PELINDO III diharapkan dapat mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat di sekitar pelabuhan

SURABAYA - Program CSR (corporate social responsibility) di Indonesia memasuki babak baru seiring dengan  makin meningkatnya kesadaran korporasi untuk ikut serta dalam kepedulian sosial perusahaan terhadap kondisi masyarakat sekitar.

Jamak, jika sebuah korporasi memberikan sumbangsih kepada warga sekitar tempat perusahaan  beroperasi.

Wujud sumbangan tersebut beragam mulai dari dukungan finansial kegiatan ormas, hingga  penerapan regulasi yang memprioritaskan warga untuk ikut serta dalam kegiatan bisnisnya.

Pemerhati Sosial asal UWKS Hari Catur Priono menuturkan, regulasi CSR sebenarnya sudah ditetapkan dalam UU 74 tentang Perseroan.


FOTO:
Proses kegiatan belajar mengajar di TK.Islam Terpadu, Salah satu penerima dana PKBL

Hari mengisahkan 10 tahun lalu saat program CSR masih belum didengungkan, banyak perusahaan merasa gerah karena dana sosial mereka banyak terserah oleh LSM yang mengaku atas nama warga, dan selanjutnya mengais sedikit rezeki melalui proposal yang disodorkan ke korporasi.

Konsep ideal Corporate Philantrophy yang seharusnya memberikan kontribusi langsung kepada suatu aktivitas amal terasa kurang tepat sasaran, ketika perusahaan seolah dipaksa untuk membiayai kegiatan amal yang seringkali mengada-ada.

Memasuki tahun 2005, pola CSR -BUMN di indonesia lebih suka menyebutnya Program Kemitraan Bina Lingkungan- mulai bergeser dengan mengkombinasikan antara bisnis dan sosial.


BACA JUGA:


Hari menambahkan ada kecenderungan pola sosial yang mengaitkan sisi bisnis. Program Kemitraan Bina Lingkungan, lanjut Hari menjadi konsep baru untuk meningkatkan prestise (brand awarness) sebuah perusahaan dengan bumbu sosial.

"Jika diperhatikan, 5 tahun lalu program PKBL masih berkutat pada korelasi antara perusahaan dengan kampanye program bina lingkungan. Yang paling menarik, program PKBL ini secara tidak langsung mengajak konsumen untuk ikut membeli produk mereka" tutur Hari

Dalam sebuah Program Bina Lingkungan, lanjut Hari, dapat dilihat ada dua kepentingan, yakni kepentingan perusahaan dan masyarakat yang perlu diselaraskan. Di dalamnya terkandung juga hak dan kewajiban yang harus terpenuhi.

Namun, Hari kurang sepakat dengan anggapan bahwa PKBL hanya digunakan sebagai kedok korporasi untuk "menebus dosa" yang telah dilakukan kepada masyarakat.

"PKBL bukanlah sekedar membuat brand differentiation, yang memberikan citra perusahaan yang khas dan berbeda di mata publik, namun lebih kepada bagaimana wujud konkrit sumbangsih perusahaan kepada masyarakat" tutur Sosiolog asal UWKS ini kepada wartapedia

Hari menambahkan kini kegiatan CSR mulai terarah dan "beretika" mengingat sasaran yang dituju tidak serta merta untuk kepentingan profit, melainkan menggeser prioritas perusahaan dalam membangun kepedulian di masyarakat.

Sejumlah korporasi besar terutama BUMN mulai sadar dengan PKBL. Aplikasi di lapangan juga beragam mulai dari pemberian bea siswa, pemberian kredit lunak, hingga pembangunan gedung.

"Kalau saya melihat, ada semacam sinergi diantara BUMN dan LSM Mitra PKBL untuk membuat kesepakatan khusus untuk segmentasi kegiatan sosial mereka, umumnya mereka membuat kluster masyarakat berdasarkan domisili dan strata ekonomi" ungkap Hari yang juga menjabat sebagai Direktur Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Potensi Masyarakat.

Penyaluran dana PKBL, lanjut Hari umumnya menganut skema Bottom Up, sehingga sangat efektif untuk mengukur tingkat kebutuhan masyarakat di suatu daerah.

Hal senada juga diungkapkan oleh Humas PELINDO III, Edi Priyanto. Menurutnya, konsep PKBL Pelindo III sengaja diarahkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat di sekitar pelabuhan.

Pihaknya mengaku sebelum memberikan dana sosial, pihaknya memetakan terlebih dahulu kebutuhan masyarakat.


FOTO:
Penyaluran program Bina Lingkungan diserahkan secara langsung oleh Wahyu Suparyono, Direktur Keuangan PT Pelindo III (Persero)

"Kami menerapkan kluster masyarakat yang tinggal di sekitar areal pelabuhan, ada ring satu dengan radius 10 km dan seterusnya. Selain itu, tidak semua kegiatan kita danai, mengingat ada skala prioritas kegiatan" tutur Edi Priyanto saat ditemui di ruang kerjanya.

Edi menuturkan pada tahun 2010, PELINDO III telah menyalurkan dana kegiatan sosial sebesar Rp.13 Milliar. Dana tersebut disalurkan kepada 7 provinsi. mulai dari Jawa Timur, Jawa Tengah, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Bali, Nusa Tenggara, Nusa Tengara Barat.

PKBL Pelindo juga menyalurkan dana kegiatan untuk berbagai sektor yang meliputi Sektor Industri, Perdagangan, Pertanian, Peternakan, Perikanan, Jasa dan sektor lainnya.

"Daerah Jawa Timur mendapatkan alokasi terbesar mencapai 6 milliar, sementara jika dilihat dari realisasi berdasarkan sektor, kami menyalurkan dana sosial untuk sektor perdagangan senilai Rp. 7 milliar" tuturnya.

Besarnya alokasi dana PKBL untuk Jawa Timur ini, lanjut Edi didasarkan pada banyaknya jumlah pelabuhan di Jatim yang dikelola Pelindo, yakni Tanjung Perak, Gresik, Pelabuhan Kalianget di Madura, Tanjung Wangi di Banyuwangi,Tanjung Tembaga di Probolinggo, Pelabuhan Pasuruan, dan Pelabuhan Panarukan di Situbondo

Selain sektor Industri dan perdagangan, Pelindo III juga menyalurkan dana untuk pemberdayaan kualitas pendidikan. Salah satu penerima dana tersebut adalah  Yayasan Lentera Insan, sebuah lembaga pendidikan yang menaungi TK.Islam Terpadu.

Ketua Yayasan Lentera Insan, Budiono S.Pd menuturkan pada tahun 2010 Pelindo III (persero) memberikan bantuan berupa material bahan bangunan. Dukungan dana PKBL ini digunakan untuk meningkatkan sarana dan prasarana sekolah. "Dana sekitar Rp.16,875,000,- dipakai untuk membangun ruang kelas TK Islam Terpadu""tuturnya.

Sementara itu, data perseroan menunjukkan sejak tahun 2007 hingga April 2011. PT PELINDO III (Persero) telah mengalokasikan dana bina lingkungan di Jawa Timur sekitar 25,54 Milyar. Dana tersebut diluar realisasi penyaluran dana kemitraan di Jawa Timur yang mencapai 21,57 Milliar

Pada tahun 2009, Pelindo III meraih BUMN Pembina PKBL dalam Pameran gelar karya PKBL dan mendapatkan Predikat Pembina Teladan.(fan)

"Kholifah tidak memiliki kekuasaan atau kedudukan apapun, kecuali sebagai figur seremonial saja."
Mustafa Kemal Atatürk