Soal Laporan ‘Perawat Cabul’ RS National Hospital, ini kata Kapolrestabes Surabaya

Surabaya – Sebagaimana yang telah beredar di media sosial, tayangan sebuah video dimana korban bernama Widyanti menceritakan apa yang dialaminya selama dirawat di rumah sakit National Hospital Surabaya.

Dalam video itu juga terlihat ada pihak manajemen dan ada yang diduga yang melakukan pelecehan Junaidi, perawat di National Hospital Surabaya. Atas beredarnya rekaman video ini, Polrestabes Surabaya langsung melakukan tindakan cepat.

Baca juga : Perawat RS National Hospital Pelaku Pelecehan Dilaporkan ke Polrestabes Surabaya

“Ya, kepolisian kita langsung mendatangi rumah sakit, dan mencoba untuk mengkonfirmasikan apakah ini benar kejadian ini, sebagaimana video yang beredar tersebut. tadi pagi kami sudah mendapatkan informasi,” ujar Kapolrestabes Surabaya, Kombes Pol. Rudi Setiawan, Kamis, (25/01).

Rekaman video saat Widyanti meminta Junaidi mengakui perbuatannya.

Rudi menuturkan, bahwa memang benar ada seorang pasien perempuan yang dirawat di rumah sakit National Hospital Surabaya yang menjalani sebuah tindakan medis, yakni operasi. Kemudian ketika selesai, Widyanti dipindahkan ke ruang pemulihan.

Pada saat di ruang pemulihan itulah diduga terjadi pelecehan seksual yang dilakukan oleh petugas rumah sakit, yakni Junaidi sang perawat yang membawa korban Widyanti itu ke ruang pemulihan. Atas apa yang dialaminya, Widyanti didampingi suami sekaligus kuasa hukumnya melaporkannya ke Polrestabes Surabaya.

“Nah saat ini, korban sudah melaporkan ke kami, ini juga suatu kerjasama yang baik, antara korban dengan kepolisian dan kami akan mengusutnya. Kami sudah mengkonfirmasi kepada pelapor, dalam hal ini pihak korban, bahwa memang benar korban mengalami pelecehan seksual,” terang Rudi.

Aksi pelecehan seksual yang diduga dilakukan oleh karyawan rumah sakit National Hsopital Surabaya tersebut akan dikenakan Pasal 290 KUHP ayat (1) dengan ancaman maksimal 7 tahun penjara. Menurut Rudi, aksi Junadi adalah mencabuli orang yang tidak sadar atau pingsan.

“Kita akan melakukan pemeriksaan mendalami terhadap korban dulu, kemudian saksi-saksi pihak manajemen dan kemudian kita melakukan pemeriksaan kepada yang terduga sebagai pelaku,” tandas mantan Dirreskrimsus Polda Sumsel ini.(asb)