Sidang Trafficking Memanas, Interupsi Jaksa Diprotes Keras PH Terdakwa

Surabaya – Sidang lanjutan perkara perdagangan manusia (trafficking), JPU dan PH (Penasehat Hukum) terdakwa terlibat adu mulut di penghujung jalannya persidangan yang digelar di Pengadilan Negeri (PN) Surabaya hari ini, Rabu (03/10)

Bertempat di ruang Candra, dengan ketua majelis hakim Sarwedi dan JPU Fathol Rosyid dari Kejari Surabaya sidang masuk pada agenda pemeriksaan saksi dari JPU.

Awal kejadian perdebatan sengit antara JPU Fathol dan PH terdakwa Frans Luthfi, ketika PH mencoba bertanya kepada saksi Syarifah (Sari) yang tertangkap bersama terdakwa Ayuk dan Bayu di hotel Fave kamar 108 Surabaya.

Saat Luthfi bertanya kepastian bahwa saat penangkapan saksi Sari, Bayu dan terdakwa Ayuk apakah melakukan di dalam kamar mandi, JPU Fathol langsung melayangkan interupsi dan mengatakan bahwa pertanyaan PH mengandung unsur menjerat.

Interupsi JPU yang dinilai aneh tersebut tak ayal membuat Luthfi naik pitam. Karena menurutnya apa yang ditanyakan itu ada pada surat dakwaan JPU.

“Yang saya tanyakan itu ada di dakwaan saudara (JPU), saya tidak menjerat. Kenapa anda potong (interupsi). Hormati sesama penegak hukum. Ini giliran saya bertanya. Saya kan bertanya, waktu ditangkap saksi ada dimana bersama Bayu dan Ayuk. Saksi mengakui dia ada dikamar mandi, Bayu dan Ayuk ada di kasur. Dalam dakwaan saudara mengatakan bahwa mereka bertiga ditangkap di kamar mandi, sedang threesome sampai keluar sperma. Saya cuma ingin memastikan. Padhe reng Medure (sama orang maduranya). ” kata Lutfhi bersungut-sungut.

Ketika hakim bertanya kepada terdakwa terkait kebenaran keterangan saksi Sari, terdakwa Ayuk mengatakan salah

“Saya masih memakai pakaian lengkap dan mainan handphone pak hakim, keterangan saksi salah pak” jelas terdakwa Ayuk.

Dihadapan majelis hakim, terdakwa juga menampik semua keterangan saksi bahwa mereka bertiga telah melakukan hubungan seksual threesome.

Penolakan terdakwa atas keterangan saksi itu dinilai oleh majelis hakim sebagai tindakan yang berbelit-belit. Membuat hakim sedikit kesal hingga melontarkan pendapat bahwa terdakwa keliatan berbohong.

“Semakin kelihatan bohongmu, hakim punya penilaian sendiri,” pungkas Sarwedi.

Pada sidang sebelumnya, kuasa hukum terdakwa mempersoalkan identitas terdakwa yang ditulis JPU dengan nama Ayuk alias Puspita. Padahal nama asli dari terdakwa menurut kuasa hukum ialah Wahyu Dwi Lestari.

Dijelaskan oleh JPU, Ayuk ditangkap polisi pada 27 Mei 2018 di kamar 108 Hotel Fave Jl. Kalirungkut, Surabaya, setelah melakukan hubungan seksual nyeleneh model threesome (hubungan seksual bertiga-red)

Untuk mencari pelanggan, Ayuk menyediakan sebuah akun di media sosial Facebook yang diberi nama [Puspita-puspita].

Untuk bisa mendapatkan layanan seks threesome, Ayuk membandrol harga sebesar Rp. 2 Juta Rupiah pada pelanggannya. (son)