Sidang Lanjutan Kanjeng Dimas, Jaksa Hadirkan Saksi Korban

Surabaya – Pengadilan Negeri Surabaya kembali menggelar sidang lanjutan perkara penipuan dan penggelapan dengan terdakwa Kanjeng Dimas Taat Pribadi, Rabu (15/8).

Persidangan yang digelar di ruang sidang Candra Pengadilan Negeri Surabaya dipimpin Ketua Majelis Hakim Anne Rusiana dengan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Hary Basuki dan Muhammad Nizar dari Kejati Jatim dengan agenda mendengar keterangan tiga orang saksi.

Ketiga orang saksi tersebut diantaranya Moch Ali SH, MH dan saksi Nur Asmui Abbas sebagai saksi korban, sedangkan saksi Budi Prayoga sebagai driver (sopir).

Dalam keterangannya, saksi Muhammad Ali menerangkan bahwa dirinya telah mengalami kerugian sebesar Rp. 35 Miliar sebagai dana talangan pembangunan padepokan yang diberikan secara bertahap, Ali juga mengaku tertarik dengan program kemaslahatan umat yang ditawarkan oleh Terdakwa Kanjeng Dimas

”Awalnya saya tanya legalitas yayasan, disana saya disambut beberapa pengurus di sekretariatnya. Saya diantar menemui Kanjeng Dimas didalam yayasan. Karena ada program pembangunan ponpes, yang bersangkutan bilang demi kemaslahatan umat dan berniat meminjam dana talangan, karena jumlahnya tidak sedikit kami minta jaminan dan diberikan 3 koper tersebut.” jelas saksi M. Ali.

Ali juga mengaku percaya meminjamkan dana talangan karena sudah ditunjukkan satu koper berisi puluhan bendel uang dolar, Ali tidak membuka bendelan tersebut karena tidak diperbolehkan sebelum waktunya dan diapun menuruti persyaratan kanjeng Dimas untuk menghormati dan mematuhi titah sang guru.

Kecurigaan mulai muncul dari benak M. Ali yang penasaran tidak diberitahu kapan untuk bisa membuka uang tersebut. Akhirnya saksi melaporkan hal ini ke Polda Jatim. Setelah dicek oleh aparat kepolisian, diduga uang terebut palsu.

Anehnya lagi uang dollar tersebut hanya di bagian atas dengan bawah saja, sedangkan ditengah uang mata negara lain. Akhirnya uang 3 koper tersebut dibawa ke Bank Indonesia untuk di cekkan keasliannya.

Setelah dicek ternyata uang dalam bendelan tersebut adalah uang asli namun mistik nilai tukarnya. Tidak sesuai dengan nilai tukar saat ini dan bila dikalkulasi kan jumlahnya tak lebih dari 100 juta rupiah.

Terdakwa Kanjeng Dimas saat ditanya mengenai keterangan saksi pelapor memgatakan dirinya lupa berapa yang diterima, dirinya berdalih tidak ada kwitansi pembayaran yang dibuat pada saat penyerahan uang. Dirinya mengaku hanya kenal M. Ali, sedangkan yang lainnya tidak.

”Iya saya kenal, tapi sama yang 2 itu ga kenal saya. Saya memang terima uang itu, tapi saya lupa berapa jumlahnya. Kan ga ada kwitansi waktu itu.” pungkas terdakwa Kanjeng Dimas. (son)