Rest In Peace Tanjung Perak menjadi Rencana Induk Pelabuhan

Wartapedia, Surabaya. Sempat ‘in memoriam’ dan nyaris 10 tahun mati semenjak UU No. 17/2008 tentang Pelayaran diberlakukan, kini Rencana Induk Pelabuhan (RIP) Tanjung Perak tak lagi bersimbol, Rest In Peace (RIP). Dokumen pengembangan pelabuhan yang mengintegrasikan tiga wilayah dalam satu kesatuan tersebut, Rabu (11/10/2017), mulai diimplementasikan melalui sosialisasi RIP kepada seluruh unsur dan stakeholder serta pemangku kepentingan di wilayah Tanjung Perak.

“RIP terintegrasi ini antara Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya, Pelabuhan Gresik, Pelabuhan Socah dan Terminal di Tanjung Bulu Pandan di Bangkalan Madura segera diimplemantasikan secara terpadu. Penerapan ini juga sesuai dengan arahan Menteri Perhubungan yang telah mengeluarkan SK tertanggal 23 Agustus 2017,” aku Kepala Otoritas Pelabuhan (KOP) Utama Tanjung Perak Surabaya, Mauritz M Sibarani usai gelar sosialisasi RIP Tanjung Perak dan sekitarnya secara terintegrasi di Surabaya, Rabu (11/10/2017).

Mauritz yang didampingi, General Manager (GM) PT Pelindo III Cabang Tanjung Perak, Joko Noerhuda dan Kepala Syahbandar dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Gresik, Agustinus Maun mengatakan, rujukan pengembangan, pengoperasian dan pengelolaan wilayah pelabuhan akan tersatukan dalam sebuah dokumen yang mengutip rencana tata ruang wilayah di pelabuhan. Diharapkan, roadmap Tanjung Perak yang menjadi pedoman tersebut bisa menjadi standar pengembangan pelabuhan terintegrasi yang lebih baik dan terukur.

“Sekarang kita semua sudah mempunyai buku RIP yang sama untuk mengembangkan pembangunan serta pengoperasian pelabuhan terintegrasi,” tukas Mauritz.

Senada juga disampaikan GM PT Pelindo III (Persero) Cabang Tanjung Perak, Joko Noerhuda. Menurutnya, RIP Tanjung Perak yang sudah dimulai rancangannya tahun 2006 silam, akan mampu menjadikan Surabaya, Gresik dan Bangkalan sebagai Glitter Metropolitan Port. 

“Mulai hari ini, kami sosialisasikan rencana pengembangan di Tanjung Perak eksisting, termasuk di TPS, Teluk Lamong dan Gresik. Begitu juga dengan semua TUKS di sepanjang selat Madura, masuk  dalam rencana pengembangan RIP. Jadi, pengembangannya sudah bisa tertata dan ter-update dengan baik, sesuai rencana induk pengembangan pelabuhan,” papar Joko.

Menyambung hal ini, KSOP Gresik, Agustinus Maun mengaku, saat ini rencana pengembangan Pelabuhan Gresik yang dilakukan Pelindo III sempat terkendala pelaksanaannya. Ini mengingat, lamanya proses kajian dan analisis pengembangan yang masih tetap berjalan.

“Ada usulan dari Pelindo III Gresik untuk melakukan penambahan dermaga. Tapi, setelah kami bahas, ternyata ada beberapa hal yang harus disiapkan Pelindo III terkait adanya konsesi eksisting dengan KSOP Gresik,” tuturnya.

Sehingga, lanjut Maun, jika hal tersebut dilakukan penambahan, sudah barang tentu akan ada konsesi lagi atau amandemen dengan konsesi yang sudah ada. Dasar yang menjadi pertimbangan adalah masalah teknis yang akan berdampak pada dermaga lain yang masih aktif. 

“Tapi, untuk saat ini, rencana penambahan di dermaga 65 ke sisi darat belum bisa dilakukan. Mungkin secara bertahap akan dapat dilakukan pengembangannya, atau setelah tahun 2019, proses pengembangan itu baru bisa dilaksanakan,” urainya.(sa/ruu/kan/asb)