Polrestabes Surabaya Ungkap Sindikat Manipulasi Data Taksi Online

Surabaya – Dua kelompok jaringan pelaku manipulasi data taksi online kembali diungkap Sat Reskrim Polrestabes Surabaya. Kedua kelompok pelaku manipulasi data ini memanfaatkan aplikasi taksi online Grab untuk meraup keuntungan.

Kelompok pertama yang diungkap adalah 8. RF, (24) Surabaya; RT, (20) Surabaya; DP, (31) Surabaya; VL, (28) Surabaya; MD, (25) Surabaya; DN, (25) Surabaya; RX, (25) Surabaya; WD, (45) Surabaya; dan DK, (21) asal Sidoarjo.

Para pelaku ini adalah sebagian dari 20 orang yang secara bersama-sama membentuk satu grup Whatsapp driver Grab dengan nama Grup A. Masing-masing pemilik akun Grab melakukan order melalui aplikasi Grab.

Order tersebut akan diambil sendiri dengan menggunakan akunnya sendiri, yakni akun atas nama orang lain yang telah dibelinya. Sehingga seolah-olah ada transaksi pengantaran penumpang oleh pengemudi Grab ke suatu tempat, namun pada kenyataannya tidak ada pengantaran penumpang.

Perbuatan tersebut dilakukan dengan tujuan untuk mengumpulkan point sebanyak 16 point dalam satu hari agar dapat bonus sebesar Rp. 300 ribu,” ujar Kapolrestabes Surabaya, Kombespol Rudi Setiawan, Senin, (02/04/2018).

Para pelaku melakukan kegiatan tersebut di daerah terpencil yang kemungkinan kecil tidak ada akun lain selain akun pelaku yang operasionalnya di daerah tersebut. Sehingga order bisa diambil hanya oleh pelaku.

Rudi menjelaskan, dalam satu hari, satu akun melakukan satu kali kegiatan mengoperasikan order fiktif dengan 16 unit HP sebagai pemesan atau order penumpang sebanyak 16 kali order.

“Agar perbuatan tersebut dapat dilakukan setiap hari dengan nomor handpone pemesan order yang berbeda maka 20 orang anggota Grup A yang masing-masing memiliki 16 buah HP android, saling bertukar HP, dan juga supaya tidak dicurigai,” jelas Rudi.

Dari kelompok pertama ini, petugas menyita barang bukti berupa 1 unit mobil Hyundai Santa Fe W 643 XS; 1 mobil Toyota Agya L 1695 JV; 1 mobil Suzuki Ertiga L 1859 KM; 1 mobil Daihatsu Sirion L 1963 JU; 309 unit HP berbagai merek; 1 buku catatan anggota grup; 17 buah tas tempat HP; 1 kotak plastik tempat HP; dan 22 buah charger berbagai merek.

Dalam kasus ini, petugas menerapkan Pasal 51 ayat (1) jo pasal 35 UU RI nomor 11 tahun 2008 tentang dugaan tindak pidana memanipulasi tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE), dengan ancaman hukuman 12 tahun penjara.(asb)