Komisi V DPR : Terima Dubes Jerman Bahas Infrastuktur RI

Komisi V DPR : Terima Dubes Jerman Bahas Infrastuktur RI

Kunjungan Parlemen Jerman yang didampingi Dubes Jerman untuk Indonesia tersebut bertujuan untuk bertemu langsung dengan anggota Komisi V DPR yang membidangi masalah infrastruktur

JAKARTA - Ketua Komisi V DPR RI Yasti Soepredjo Mokoagow beserta sejumlah anggota Komisi V menerima kunjungan resmi rombongan Parlemen  dan Duta Besar Jerman Nobert Baas di ruang Rapat Komisi V, Rabu Sore, (24/8).

Kunjungan Parlemen Jerman yang didampingi Dubes Jerman untuk Indonesia tersebut bertujuan untuk bertemu langsung dengan anggota Komisi V DPR yang membidangi masalah infrastruktur.

“Terima kasih kami diberikan waktu untuk bicara dan bertemu dengan anggota DPR, saya pikir permasalaan  infrastruktur adalah permasalahan kita bersama dimana semua Negara  memiliki permasalahan infrastruktur, terutama masalah anggaran yang memerlukan dana yang cukup besar,” kata Dirk Fischer selaku anggota parlemen Jerman dalam menyampaikan maksud dan tujuan kedatangannya ke Indonesia.

Pada kesempatan tersebut, Ketua Komisi V mengapresiasi kedatangan Anggota Kedubes Jerman dan parlemennya.

Yasti menjelaskan, menyangkut kebijakan infrastruktur di Indonesia, kendala yang dihadapi adalah masalah pendanaan infrastruktur baik darat, laut, dan udara. Indonesia terdiri dari pulau-pulau yang begitu besar jumlahnya kurang lebih  17.000 pulau  yang tersebar di seluruh Indonesia.

Dapat dikatakan Indonesia merupakan negara maritim dan membutuhkan transportasi laut yang handal, dimana saat ini Pemerintah baru mulai membangun kurang lebih 2.600 pelabuhan. Jika dilihat dari jumlah pulau 17.000, jumlah pelabuhan yang ada masih jauh sekali.

Hal tersebut memicu pertanyaan dari salah satu anggota Parlemen Jerman yang mengatakan "bagaimana cara menghubungkan pulau-pulau yang tersebar di seluruh Indonesia, apakah menggunakan kapal feri,” tanya Uwe Karl Beckmeyer.

Terkait pertanyaan tersebut, Yasti menjelaskan bahwa memang sangat diperlukan infrastruktur laut.” Kami sudah ada beberapa pelabuhan yang dibangun dari beberapa ribu pulau yang ada di Indonesia tapi Indonesia tersangkut di masalah anggaran” jelasnya, Seperti dilansir laman DPR.

Wakil Ketua Komisi V Muhidin M. Said menambahkan, untuk masalah anggaran di bidang infrastruktur ini, tentunya pemerintah Indonesia sangat membutuhkan bantuan dari Pemerintah Jerman baik untuk Infrastruktur darat, laut, maupun udara.

Namun, katanya, kami lebih mengarah ke infrastruktur laut karena Indonesia adalah Negara Maritim dan merupakan pertemuan empat selat yang menjadikan Indonesia pusat lalu lintas kapal-kapal.

Sementara Claudia Wintersteiny yang merupakan Panitia Anggaran Parlemen Jerman juga menanyakan berapa persentasi keseluruhan anggaran APBN yang disediakan Indonesia untuk transportasi.

Menjawab pertanyaan tersebut Yasti mengatakan bahwa saat ini Indonesia hanya menyiapkan 36,6 persen. Namun dia berharap ke depan anggaran tersebut dapat terus ditingkatkan.

Yasti juga menjelaskan bahwa sudah ada kerjasama antara Pemerintah Indonesia dengan Pemerintah Jerman, dalam hal ini Kementerian Perhubungan Indonesia dan Jerman menyangkut perkeretaapian di Indonesia.

“Kami selaku anggota DPR menyambut baik dan itu adalah satu solusi pemerintah untuk bisa meringankan beban negara dalam hal  transportasi nasional,” jelasnya. (c8/lik)

"Jangan Tuan terlalu percaya pada pendidikan sekolah. Seorang guru yang baik masih bisa melahirkan bandit-bandit yang sejahat-jahatnya, yang sama sekali tidak mengenal prinsip. Apalagi kalau guru itu sudah bandit pula pada dasarnya."
Frischboten