Saturday, 25 February 2012 13:07

| Aceh mendapat nilai 70,39 dalam survei Indeks Demokrasi Indonesia
|
ACEH - Dalam pidatonya di Rakorpimda jelang Pilkada Aceh di Gedung Serba Guna Kantor Gubernur Aceh, Kamis (23/2) lalu, Sekretaris Menko Polhukam Letjen TNI Dr. Hotmangaradja Pandjaitan mengungkapkan bahwa Aceh berada diperingkat nomor satu sebagai Provinsi dengan Indeks Demokrasi terbaik Indonesia
“Provinsi bekas konflik dan amukan tsunami itu juga masuk sebagai barometer penilaian dunia terhadap kondisi demokrasi dan pembangunan di nusantara,” katanya, Seperti dilansir laman Polkam.
"Aceh menduduki peringkat nomor satu, peringkat pertama dari 33 Provinsi di seluruh Indonesia," kata Sesmenko Polhukam.
Menurutnya, Aceh mendapat nilai 70,39 dalam survei Indeks Demokrasi Indonesia. Survei ini dilakukan oleh sebuah lembaga independen dengan menggunakan teknologi canggih.
Sesmenko Polhukam menyebutkan, salah satu indikator Aceh sebagai Provinsi peraih nilai tertinggi dalam indeks demokrasi Indonesia adalah, tingginya partisipasi masyarakat dalam menggunaan hak politiknya, terlibat dalam pengambilan keputusan serta pengawasan
"Ini hasil yang sangat membanggakan," lanjut Sesmenko Polhukam.
Menurutnya, Aceh juga menjadi salah satu barometer bagi dunia dalam menilai jalannya demokrasi dan pembangunan di Indonesia. "Aceh ini menjadi barometer penilaian dunia terhadap apa yang kita bangun bersama-sama dengan seluruh saudara-saudara kita di wilayah nasional," kata Sesmenko Polhukam.
Sesmenko Polhukam menambahkan apa yang dilakukan Pemerintah di Aceh saat ini, adalah upaya untuk menunjukkan kepada dunia bahwa kita adalah bangsa yang menjunjung tinggi demokrasi.
Sesmenko Polhukam mengajak seluruh elemen untuk mewujudkan Pilkada damai, jujur dan adil di Aceh. "Pilkada jangan difokuskan kepada siapa yang menang dan siapa yang kalah, kalau difokuskan ke sini tidak akan selesai masalah," kata Jenderal bintang tiga tersebut. (c8/lik)
![]() |
|
| FOTO: Pasukan Garuda Gelar Pemeriksaan Marjayoun-Lebanon |
"Saya lebih menyukai rasionalisme daripada ateisme. Masalah mengenai Tuhan dan objek-objek kepercayaan lainnya tidak dapat dijelaskan dan tidak berperan dalam rasionalisme, oleh karena itu Anda tidak perlu membuang-buang waktu dengan menyerang (suatu pandangan) atau bertahan (dari serangan pihak lain)."
Isaac Asimov