ANTASENA : Akan Unjuk Gigi Dalam Shell Eco Marathon 2012

ANTASENA : Akan Unjuk Gigi Dalam Shell Eco Marathon 2012

Pada ajang Shell Eco Marathon 2012 Antasena akan bersaing dengan 20 tim lain yang juga dari Indonesia

SURABAYA - Mobil hemat energy “Antasena” karya mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) akan unjuk gigi dalam kejuaraan Shell Eco Marathon 2012 di Sepang Malaysia Juli mendatang.

“Sebelumnya ITS sudah mengeluarkan Sapu Angin I hingga VII, kini mobil Antasena pun sedang disiapkan untuk berlaga. Mobil ini diyakini akan jadi juara di kompetisi bergengsi skala dunia berikutnya,” kata penanggungjawab Antasena Achmad Fachrudin di Surabaya, Selasa (24/4), Seperti dilansir laman its.

Persiapan matang telah dilakukan oleh sejumlah mahasiswa yang tergabung dalam tim Antasena. Mereka berasal dari mahasiswa Jurusan Teknik Material dan Metalurgi, Teknik Mesin dan Mekatronika PENS.

Menurut Fachrudin, pembatasan kendaraan penyebab macet dan polusi udara di Indonesia konon menjadi awal tercetusnya penggarapan mobil mungil satu ini. ''Antasena merupakan kendaraan yang hemat energi,'' tutur Fachrudin.

Dikatakannya, Antasena merupakan kendaraan berbahan bakar hidrogen yang mengalami proses elektrolisis, sehingga dapat menghasilkan energi. Hidrogen dipilih sebagai bahan bakar tak luput dari perhatian tim Antasena pada sumber bahan tambang dunia yang semakin menipis.

''Konsep Antasena ini telah ada sejak tahun lalu,'' ungkap Fachrudin yang juga merupakan Ketua Biro MTC.

Untuk diketahui pada ajang Shell Eco Marathon 2012 Antasena akan bersaing dengan 20 tim lain yang juga dari Indonesia. Uniknya, Antasena merupakan satu-satunya mobil yang memakai bahan bakar hidrogen.

Tak hanya itu, karbon fiber yang dipakai Antasena pun semakin menambah nilai plus. Bahan tersebut membuat bobot ini menjadi ringan. Bayangkan, mobil kecil satu ini hanya berbobot 40 kilogram. ''Keunggulan lain Antasena yaitu memakai hub motor yang efisiensinya mencapai 94 persen,'' tutur Fachrudin.

Desain mobil yang lancip membuat sistem aerodinamika mesin menjadi bagus. Dengan desain seperti itu membuat gaya gesek mesin dengan udara menjadi sedikit. Tak ayal, desain mahasiswa Jurusan Teknik Material dan Metalurgi, Ariza Fajri dan Denis Firmasyah, ini dapat melaju tanpa hambatan. (c8/lik)

"Suatu masyarakat paling primitif pun, misalnya di jantung Afrika sana, tak pernah duduk di bangku sekolah, tak pernah melihat kitab dalam hidupnya, tak kenal baca-tulis, masih dapat mencintai sastra, walau sastra lisan."
Magda Peters