Upaya Mitigasi Dan Adaptasi Bencana

Upaya Mitigasi Dan Adaptasi Bencana

Jakarta - Wartapedia : Beberapa kejadian bencana akhir-akhir ini seperti Wasior, Mentawai dan Merapi, menjadi bahan pembelajaran yang mahal bagi semua.

Bencana ini juga semakin memperingatkan kepada kita semua  akan pentingnya penyelenggaraan tata ruang. Apabila penyelenggaraan tata ruang baik, kerugian akibat bencana baik harta benda, bahkan korban jiwa dapat diminimalisir. Direktur Jenderal Penataan Ruang (DJPR) Kementerian Pekerjaan Umum (PU)  Imam S Ernawi mengatakan di Jakarta (5/11).

Imam menambahkan, dalam Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Provinsi, Kabupaten/Kota akan terdapat aturan yang jelas tentang peruntukan ruang.

Mana yang tidak boleh dibangun, boleh dibangun dan dan boleh dibangun tetapi dengan syarat. Demikian pula apabila terjadi bencana pemerintah daerah (Pemda)  secepatnya harus dapat segera menetapkan lokasi-lokasi yang aman untuk hunian sementara (huntara) atau kemungkinan bila diperlukan relokasi/resettlement.

Dengan kejadian bencana tersebut pihaknya telah menerjunkan Tim di lapangan hingga saat ini untuk mendampingi Pemda dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dalam memberikan pertimbangan teknis yang diperlukan dalam penetapan huntara dan relokasi, jelas Imam.

Bencana alam banjir banding di Wasior Kabupaten Teluk Wondama Papu Barat pada 4 Oktober lalu melanda hampir di seluruh kawasan bisnis dan permukiman. Bencana tersebut  mengakibatkan korban jiwa sebanyak 168 meninggal, 118 jiwa hilang dan 9.016 jiwa kehilangan tempat tinggal.

Berdasarkan kajian peta topografi dan peta citra imbas banjir banding, kawasan Wasior merupakan daerah alluvial yang rawan terhadap banjir banding. Tim DJPR di bawah koordinasi BNPB membantu Pemda dalam memilih lokasi huntara yang aman dan kajian kemungkinan relokasi kawasan perkotaan.

Bencana tsunami yang menimpa Kepulauan Mentawai 25 Oktober lalu merenggut korban 431 jiwa meninggal dan 88 jiwa hilang.  Lebih dari 700 rumah rusak berat dan ringan, 7 jembatan, 6 sarana pendidikan, 7 rumah ibadah rusah serta rusaknya jalan kolektor dan local. Dengan bencana ini Tim DJPR juga membantu Pemda dalam menentukan lokasi huntara dan relokasi pemukiman baru serta memberi masukan penyusunan Master Plan Rehabilitasi dan Rekonstruksi pasca bencana Mentawai

Ditambahkan, berdasarkan penelusuran tim lapangan yang dilakukan hingga 3 Nopember 2010, dari beberapa alternative huntara yang berhasil diidentifikasi, telah ditetapkan dua lokasi huntara, yaitu  Muntai Baru baru pada ketinggian 27 (meter diatas permukaan laut (mdpl) seluas 1 ha. Di lokasi ini dialokasikan 76 rumah dengan masing-masing berukuran 6 x 8 meter. Alternatif lain adalah Dusun Tapak Jaya dengan luasan 4 ha.

Oleh karena itu menurut Imam, kampanye pentingnya penataan ruang yang baik dan responsif terhadap mitigasi dan adaptasi bencana terus digencarkan Kementerian PU. Kampanye terus dilakukan dalam berbagai kegiatan, termasuk melalui peringatan World Town Planning Day 2010, Hari Tata Ruang (HARITARU) 2010.

HARITARU sendiri akan dilaksanakan pada tanggal 6 – 8 Nopember 2010 di Sanur Bali, bekerjasama dengan pemerintah Provinsi Bali dan Kota Denpasar.  Provinsi Bali merupakan salah satu provinsi yang telah mempunyai Perda RTRW Provinsi sesuai UU No. 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang.

"Jangan Tuan terlalu percaya pada pendidikan sekolah. Seorang guru yang baik masih bisa melahirkan bandit-bandit yang sejahat-jahatnya, yang sama sekali tidak mengenal prinsip. Apalagi kalau guru itu sudah bandit pula pada dasarnya."
Frischboten