Hatta Rajasa : "Pengendalian BBM Jangan Dispekulasikan Dulu"

Hatta Rajasa : "Pengendalian BBM Jangan Dispekulasikan Dulu"

JAKARTA - Menko Perekonomian Hatta Rajasa meminta agar masalah pengendalian BBM itu tidak dispekulasikan dulu, dengan cara-cara oh nanti caranya begini, nanti CC sekian, nanti akan dimulai 1 Mei.

Dalam Sidang Kabinet Paripurna yang berakhir Selasa (24/4) malam, belum dapat diambil keputusan mengenai mekanisme pengendalian Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi, termasuk kapan pengendalian akan dilaksanakan.

“Tadi kami mendiskusikan, bahwa Presiden mendiskusikan, dan kami masih tetap mendalami itu. Ya mendalami hal-hal yang terkait dengan opsi-opsi tersebut, mendengarkan masukan. Akan tetapi pada saat yang tepat ini akan disampaikan,” katanya, Seperti dilansir laman Setkab.

“Tidak, atau belum. Jangan dispekulasikan itu. Itu masih kita lakukan pendalaman terus, pada saat yang tepat, dan semua ide-ide pemikiran yang bagus itu tidak berhenti pada ide atau konsep yang bagus, tetapi juga harus bisa diimplementasikan, dan juga bisa diterima oleh mayoritas masyarakat,” tutur Menko.

Ia kembali meminta agar jangan dispekulaskan dulu, besok, lusa dan sebagainya. “Mari kita jaga agar tidak menimbulkan expectflation karena spekulasi-spekulasi yang tidak perlu,” ujar Hatta.

Menurut Menko Perekonomian,  dengan tidak adanya kenaikan harga BBM bersubsidi, maka bisa dipastikan akan terjadi lonjakan pada pengguna BBM bersubsidi atau kuota, dan juga akan meningkatkan subsidi energy  (BBM dan listrik) berpotensimencapai Rp 340 triliun. Ini kalau tidak ada kebijakan akan mendorong defisit  di atas 3%. Oleh sebab itu harus ada kebijakan.

Dalam konteks menjaga fiskal, lanjut Hatta, maka pengendalian yang bersifat disiplin menjaga kuota oleh Pemerintah Daerah menjadi sangat penting, karena kuota tersebut ditentukan juga oleh Pemda, bersama-sama BPH Migas.

“Nah dalam hal ini, termasuk juga Pemerintah Daerah mengawasi penyimpangan-penyimpangan yang mungkin terjadi akibat penggunaan BBM bersubsidi yang tidak pada tempatnya, yang tidak berhak,” jelas Hatta. (c8/lik)

"Suatu masyarakat paling primitif pun, misalnya di jantung Afrika sana, tak pernah duduk di bangku sekolah, tak pernah melihat kitab dalam hidupnya, tak kenal baca-tulis, masih dapat mencintai sastra, walau sastra lisan."
Magda Peters