Awas Dieng : Warga Berharap Ada Kompensasi Dari Pemerintah

Awas Dieng : Warga Berharap Ada Kompensasi Dari Pemerintah

Ratusan warga Dusun I, Desa Sumberejo, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, terancam kelaparan akibat bencana gas beracun Kawah Timbang, Gunung Dieng.

BANJARNEGARA - Informasi yang dihimpun di Batur, Banjarnegara, Sabtu, menyebutkan sebagian besar warga Dusun I yang berpenduduk 274 keluarga atau 1.048 jiwa ini bekerja sebagai buruh tani pada ladang kentang yang berada di dalam radius bahaya gas beracun Kawah Timbang meskipun tempat tinggal mereka berada pada daerah aman sehingga tidak dievakuasi.

Oleh karena itu, dalam satu pekan terakhir sebagian besar warga tidak mendapatkan penghasilan untuk keluarga karena dilarang mendekat ke ladang tempat mereka bekerja.

"Kami bekerja sebagai buruh tani, sudah satu minggu ini kami tidak memiliki penghasilan sehingga cari utangan ke sana-sini untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Itu kalau ada yang kasih utangan, tapi kalau tidak ada, bagaimana nasib keluarga," kata seorang warga, Buhamin (38), Seperti dilansir laman Menkokesra.

Menurut dia, pendapatan seorang buruh tani sebesar Rp15 ribu per hari yang digunakan untuk membeli kebutuhan sehari-hari. Warga lainnya, Sarkam (50) mengatakan, pemerintah seharusnya memberi kompensasi atas situasi yang mengakibatkan masyarakat tidak dapat bekerja. Minimal untuk biaya hidup selama tidak bekerja," katanya.

Selain itu, dia juga menyayangkan pemberitaan terkait Kawah Timbang yang sering kali membuat panik warga.

Secara terpisah, Camat Batur Sarkono mengatakan, pihaknya masih mendata jumlah warga khususnya para buruh tani yang terkena imbas bencana gas beracun Kawah Timbang.

"Kami akan mengusulkan kepada BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana, red) agar mereka bisa mendapat kompensasi atas musibah ini. Tampaknya BNPB memberikan sinyal positif," katanya. (c8/lik)

"Bagi bangsa Indonesia pandangan hidup itu dapat dipelajari dari khazanah adat, istiadat, kebiasaan-kebiasaan di dalam pelbagai kebudayaan daerah."
R. Parmono - Filsuf Indonesia