Korupsi Penjualan Aset : Kejagung Tetapkan Dirut PT ISN Jadi Tersangka

Korupsi Penjualan Aset : Kejagung Tetapkan Dirut PT ISN Jadi Tersangka

JAKARTA - Kejaksaan Agung telah menetapkan tiga orang tersangka dalam kasus penjualan aset berupa tanah bekas pabrik patal di Bekasi.

“Yang ditetapkan jadi tersangka tersebut adalah Dirut PT Industri Sandang Nusantara (PT ISN), Leo Pramuka, Direktur Keuangan PT ISN Wiyadja Kresno Brojonegoro, dan Dirut PT.Artha Bangun Pratama, Evrizal “ Kata Adi Toegarisman (Direktur Penyidikan Pidana Khusus) Kejaksaan Agung di Jakarta

" Kami menemukan adanya bukti permulaan yang cukup tentang terjadinya TPK sehingga Kejagung meningkatkannya ke tahap penyidikan," katanya, seperti dilansir laman kejaksaan.

"Hasil investigasi sementara ditemukan bahwa pihak perusahaan plat merah ini menjual aset berupa tanah bekas pabrik seluas kurang lebih 160 Hektar dengan harga permeter Rp1 juta, sehingga total Rp160 milyar, penjualan itu tidak sesuai dengan prosedur termasuk penggunaan dana penjualan Patal Bekasi sehingga untuk sementara dugaan kerugian negara lebih Rp 60 milyar ” jelasnya.

"Dari hasil penyidikan sementara ada penyimpangan negara tentu dirugikan, yang membeli diantara mereka (tersangka) juga," ujarnya.

Saat ini, penyidik sedang menelusuri transaksi jual beli tersebut, penentuan Nilai Jual Objek Pajak (NJOP) tanah tersebut juga akan dipastikan apakah dilakukan sesuai aturan atau tidak.

Untuk diketahui, PT ISN telah menjual aset dan melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap 1.864 orang karyawannya guna melunasi utang perseroan sejak 1983.

Direktur Utama PT ISN, Leo Pramuka awal Maret lalu mengatakan, pihaknya telah menyelesaikan beberapa utang seperti ke Bank BNI sebesar Rp 20,47 miliar utang sejak 1999, menyelesaikan hutang kepada Bank Mandiri sejak 1983 sekitar Rp 1,56 miliar, melunasi pembayaran subsidiary loan agreement (SLA) Rp 18,73 miliar sejak 1997 dan membayar sebagian utang RDI Rp 5,27 miliar sejak 1997. (c8/lik)

Bumi ini cukup untuk tujuh generasi, namun tidak akan pernah cukup untuk tujuh orang serakah
Mahatma Gandhi