DEMO: Puluhan Wartawan Tolak Intimidasi PERS

DEMO: Puluhan Wartawan Tolak Intimidasi PERS

SURABAYA - Sejumlah jurnalis yang tergabung dalam Solidaritas Wartawan Surabaya (SWS) menggelar demo, Senin (19/3/2012) untuk menuntut Mantan Kabag Bina Program, Agus Sonhaji mencabut pernyataannya terkait tindakan intimidasi dan ancaman terhadap Dhimas, wartawan lensa indonesia.

Para jurnalis berjalan kaki dari gedung DPRD ke Pemkot Surabaya yang jaraknya hanya 1 km, sepanjang jalan para wartawan ini berorasi, dan meneriakkan perlawanan pada aksi ancaman, kekerasan dan intimidatif terhadap PERS

”Pers itu pilar demokrasi, punya fungsi kontrol pada pemerintah, pejabat publik jangan main ancam, apalagi intimidasi,kami menuntut Agus Imam Sonhaji dalam tempo 2x 24 jam agar meminta maaf.” teriak Achmad Ali, koordinator aksi demo.

Tindakan Intimidasi yang dilakukan Agus Sonhaji terhadap Dhimas diduga merupakan buntut dari tulisan Dhimas, Wartawan Lensa Indonesia yang terus memberitakan tentang skandal pengadaan Internet RT/RW yang menyeret nama Agus Sonhaji.

"Dada kiri saya dipukul Agus Sonhaji, dia juga mengancam akan mempolisikan saya karena tulisan tersebut, padahal saya menulis berdasarkan data otentik" ujar Dhimas.

Sementara itu, Rio Setiawan, selaku Ketua Umum Himpunan Praktisi Radio dan Media Online Indonesia menyayangkan sikap Agus Sonhaji yang tidak menghargai profesi Jurnalis.

Rio menambahkan tindakan Agus yang mengancam akan melaporkan wartawan dengan tuduhan melakukan pencemaran nama baik terhadap Sonhaji adalah salah alamat, sebab sebagai pejabat publik Agus Sonhaji harusnya memahami pola kerja wartawan.

"Jika merasa dirugikan terhadap sebuah pemberitaan, harusnya dia menggunakan hak jawab karena hal itu sudah diatur dalam UU PERS no 40 tahun 1999" ujarnya.

Rombongan Jurnalis gagal menemui Walikota Tri Rismaharini, sebab yang bersangkutan sedang tidak berada di Balai Kota, kemudian ditemui oleh perwakilan Sumarno, Kepala Bakesbang Linmas Pemkot Surabaya "Saya coba sampaikan tuntutan rekan -rekan wartawan, sebab hal ini perlu diklarifikasi ke pimpinan saya (walikota-red)"

Sementara itu, Lembaga riset ‘Reporter Without Borders’ yang dirilis pada bulan Januari 2012 menyebutkan, narasumber berita di Indonesia suka main ancam, berlaku kasar, intimidatif. Indikator ini dibuktikan dengan melorotnya peringkat Indonesia melorot dari 117 ke 146. (rdi)

"Bagi bangsa Indonesia pandangan hidup itu dapat dipelajari dari khazanah adat, istiadat, kebiasaan-kebiasaan di dalam pelbagai kebudayaan daerah."
R. Parmono - Filsuf Indonesia