INSIDEN YAMATO:Aksi Peringatan Penyobekan Bendera Belanda

INSIDEN YAMATO:Aksi Peringatan Penyobekan Bendera Belanda

SURABAYA - Insiden 19 September 1945, penyobekan bendera Belanda yang dilakukan oleh 4 arek Suroboyo di Hotel Yamato Surabaya merupakan awal kebangkitan bagi pemuda Surabaya.

Dalam insiden itu, gugurnya kusuma bangsa yakni  4 tokoh pemuda yang bernama Sidik, Mulyadi, Hariono, dan Mulyono menjadi potret bagi generasi pemuda Surabaya khususnya.

Dari peristiwa itu, terbukti menggugah para pemuda-pemuda Surabaya sekarang ini. Kenyataannya, tiga gerakan bekerjasama untuk melakukan aksi theaterical sebagai simbol hari peringatan terjadinya insiden penyobekan bendera 19 September 1945.

Tiga gerakan itu yakni, Serikat Buruh Kerakyatan-Komite Persiapan Konfederasi Serikat Nasional (SBK-KPKSN), Forum Advokasi Mahasiswa Universitas Airlangga (FAM Unair), dan Serikat Kedaulatan Rakyat (SKMR).

Belasan orang dikerahkan untuk menggelar aksi tersebut dengan tujuan agar masyarakat mengingat sejarah.

Pada aksi tersebut mereka melakukan aksi perang dengan belanda sampai akhirnya menyobek bendera Belanda, merah-putih-biru menjadi bendera Indonesia, merah-putih.

Sementara itu, Abdul Rachman selaku koordinator lapangan aksi theaterikal napak tilas sejarah mengatakan tujuan aksi napak tilas ini agar masyarakat mengingat serta mengenang sejarah perobekan bendera. "Mereka agar ingat dan mengenang sejarah," imbuhnya.

Selain itu, dari aksi tersebut diharapkan agar pemerintah juga mengingat sejarah semangat perjuangan para pemuda-pemuda Surabaya dulu, dengan kata lain semangat kebangsaan serta patriotisme rakyat yang semakin hari kian luntur akan berpengaruh pada persatuan rakyat.

"Selama ini rakyat dihadapkan pada konflik-konflik horizontal antar kelompok masyarakat seperti praktek korupsi, masalah pendidikan, kesehatan semakin mahal, aset negara yang banyak dijual kepada orang asing, dan lain sebagainya." ujarnya

"Ini adalah salah satu bentuk refleksi, agar kita (masyarakat) ingat dengan sejarah dan berharap kepada pemerintah agar jangan sampai ada konflik seperti masalah pendidikan, korupsi, aset-aset yang dijual, serta juga kesehatan," tegas laki-laki berambut cepak yang berorasi didepan Hotel Mojopahit.(c2/adi)

"Saya pribadi, Presiden Akayev, tidak pernah dan tidak mempunyai keinginan apapun untuk mengganti konstitusi dengan tujuan memperpanjang masa jabatan saya"
Presiden Askar Akayev