Lumpuhkan bandar Sabu jaringan Malaysia, Buwas sebut jalur laut paling rawan

Surabaya – Keseriusan Badan Narkotika Nasional (BNN) dalam memberantas penyalahgunaan Narkoba terus digencarkan. Sebagaimana penangkapan terhadap bandar Sabu-sabu jaringan Malaysia beberapa hari yang lalu.

Peristiwa penangkapan yang diwarnai aksi menegangkan itu, menjadi sorotan khusus BNN pusat. Hal itu disampaikan Kepala BNN, Komjen Pol Budi Waseso saat gelar konferensi pers bersama Operasi Gabungan Penggagalan Peredaran Gelap Narkotika jenis Methamphetamine.

Baca juga : Masih melawan saat diamankan, dua bandar Sabu jaringan Malaysia ditembak mati

Bertempat di Pelabuhan Tanjung Perak di aula Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Tipe Madya Pabean (KPPBC-TMP) Tanjung Perak/BC Perak Surabaya, orang nomor satu di tubuh BNN yang akrab disapa Buwas ini menggelar konferensi pers, Kamis (11/01/2018).

Buwas menilai, masuknya Narkoba melalui jalur laut terbilang paling tinggi. Tingkat kerawanannya pun terhadap kerentanan peredaran Narkoba benar-benar harus diperhatikan. Jalur laut merupakan pintu paling terbuka dan leluasa untuk masuknya peredaran Narkoba.

“Lebih dari 50 persen, atau bahkan 80 persen, masuknya (narkoba, red) paling rawan melalui pintu pelabuhan,” kata Buwas.

Dengan kondisi tersebut, lanjut Buwas, pihaknya tak ingin kebobolan dan lengah dari serangan sindikat narkoba yang mencoba memasukkan barangnya ke Indonesia melalui jalur pelabuhan ke wilayah Jawa Timur.

“Untuk ini, kami dari BNN akan menguatkan tim dan jajaran untuk membentengi masuknya narkotika dan sejenisnya ke Indonesia dari laut maupun pintu bandara. Yang pasti, kami perangi,” lanjutnya.

Dalam kesempatan itu, Buwas juga mengingatkan, agar seluruh maskapai penerbangan di Indonesia turut mendukung BNN menutup celah dan ruang terbuka bagi para penyelundup narkotika ilegal melalui jalur udara. Sebab, pintu bandara juga cenderung dijadikan tempat masuknya peredaran narkotika selundupan.

“Saya punya data semua maskapai yang memberi peluang. Saya sudah ingatkan, agar lebih berhati-hati dengan aksi penyelundupan narkotika ilegal melalui jalur udara,” ingatnya.

Sementara, tertangkapnya kurir dan pengedar/bandar besar narkoba jenis sabu-sabu jaringan Malaysia yang masuk ke Jawa Timur melalui pintu Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya itu, ternyata melibatkan tim kepabeanan.

Bersama tim Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Jatim, gabungan tim Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC), termasuk di dalamnya petugas Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Tipe Madya Pabean (KPPBC-TMP) Tanjung Perak/BC Perak Surabaya penangkapan dilakukan.

Menurutnya, itu adalah bukti kemampuan penegak hukum dalam meringkus para pelaku beserta barang bukti kiriman sabu-sabu seberat lebih dari 7 kilogram (7.300 gram) yang ditaksir nilainya mencapai Rp 14,6 miliar.

“Nilai itu setara dengan satu gram sabu-sabu yang diperjualbelikan dengan harga Rp 2 juta,” tukas Direktur Penindakan dan Penyidikan (P2) Kantor Pusat DJBC, Bahaduri Wijayanta.

Namun demikian, Wijayanta mengingatkan, nilai tersebut tak sebanding dengan jatuhnya korban atas penyalahgunaan narkotika jenis Methamphetamine (sabu-sabu) tersebut.

Artinya, atas upaya penggagalan penyelundupan ini, jika diasumsikan 1 gram sabu-sabu tersebut digunakan 4 orang, maka jumlah jiwa yang telah diselamatkan dari bahaya penyalahgunaan narkotika dan psikotropika ilegal diperkirakan mencapai 29.200 jiwa.

“Keberhasilan ini merupakan aksi nyata BNNP Jatim dan DJBC dalam upaya memberantas peredaran narkotika, psikotropika, dan prekursor ilegal di Indonesia, khususnya di Jawa Timur, guna melindungi dan menyelamatkan masyarakat dari bahaya penyalahgunaan narkotika dan obat-obatan secara ilegal,” tambah Buwas.(asb)