24 Jam Realitas : Penyiaran Multimedia Krisis Perubahan Iklim

24 Jam Realitas : Penyiaran Multimedia Krisis Perubahan Iklim

Pesan dampak nyata dari krisis Perubahan Iklim ini secara bergantian akan disampaikan tiap jam oleh 24 orang presenter Climate Reality, di 24 zona waktu, dalam 13 bahasa

JAKARTA - Sekretaris Kabinet (Seskab) Dipo Alam menginformasikan, bahwa kota Jakarta pada hari Jumat (15/9) akan menyelenggarakan “24 Jam Realitas”  penyiaran multimedia terhadap krisis perubahan iklim, yang secara serentak di lakukan di seluruh dunia.

Presentasi selama 24 jam ini akan dimulai dari  Mexico City, Meksiko, pada pukul 19.00 waktu setempat, dan  diakhiri dengan  presentasi oleh Al Gore, mantan Wakil Presiden Amerika Serikat pada 15 September pukul 19:00 di New York City, Amerika Serikat.

Al Gore akan bergabung dengan 23 aktivis lainnya untuk menyampaikan pesan melalui multimedia presentasi kepada seluruh dunia, bersama dengan organisasi-organisasi mitranya, mengajak dunia untuk secara bersama-sama memecahkan krisis perubahan iklim dunia.

“ 24 Jam Realitas” akan berlangsung di seluruh dunia, dari Pakistan ke Cape Verde, dari Indonesia hingga Alaska. Presentasi point to point di Asia  ini akan dilakukan di Seoul, Beijing, Jakarta, New Delhi, Islamabad, Dubai dan Istanbul.

“Di Jakarta, acara ini  berlangsung  di @america, Pacific Place, pada 15 September pukul 19.00, yang diselenggarakan oleh The Climate Reality Project Indonesia,” jelas Dipo, Seperti dilansir laman Setkab.

Para presenter yang dipilih untuk berbicara adalah orang-orang yang hidup dalam realitas perubahan iklim. Mereka dapat menjelaskan peristiwa cuaca ekstrem yang dialaminya, pengalaman banjir dan badai, bercerita akan ulah manusia yang mencemari lingkungan, penyebab dan dampak terhadap perubahan iklim.

Presenter di Jakarta akan akan bercerita pengalaman banjir besar yang terjadi di Jakarta pada Februari 2007 yang menenggelamkan hampir seperlima dari Jakarta.

Presenter di New Delhi, akan bercerita mengenai pengalaman pribadinya ketika Mumbai pada tahun 2005 mengalami curah hujan yang tinggi. Dan juga berbagi pengalaman terhadap pengembangan energi terbarukan seperti turbin angin.

“24 Realitas akan memfokuskan perhatian dunia akan kebenaran yang utuh,  ruang lingkup, skala dan  dampak dari perubahan iklim, untuk menghilangkan keraguan, ungkapan dusta  dan mengkatalisis urgensi  dari masalah ini, yang mempengaruhi setiap orang” ujar  Al Gore dalam klip video yang dapat diunduh di www.climaterealityproject.org

Al Gore yang hadir memberikan pelatihan pada The Climate Project Asia-Pasifik di Jakarta pada 8-10 Januari, 2011 lalu menyatakan akan menggunakan argumen ilmiah untuk menepis adanya keraguan terhadap dampak nyata dari perubahan iklim.

Bagi Indonesia, "24 Jam Realitas" merupakan serangkaian  kegiatan yang memerlukan partisipasi masyarakat. Diawali dengan pelatihan terhadap 215 presenter Indonesia oleh Al Gore di bulan Januari 2011 lalu, jangkauan untuk meningkatkan kesadaran  masyarakat  akan dampak dari perubahan iklim ini diperluas, dengan masing-masing presenter mengembangkan program melalui komunitasnya masing-masing.

“The Climate Reality berupaya meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap perubahan iklim melalui komunikasi ilmu pengetahuan, dampak, dan solusi perubahan iklim menuju pembangunan rendah karbon di Indonesia. Melalui kegiatan 24 Jam Realitas ini diharapkan pemahaman mengenai dampak dan upaya menghadapi perubahan iklim dapat tersebar lebih luas”, tambah Amanda Katili Niode, selaku Manager The  Climate Reality Project Indonesia.

“24 Jam Realitas” merupakan  jembatan lautan dan budaya - di setiap zona waktu - untuk membawa dunia bersama-sama menekankan kebenaran tentang krisis perubahan iklim dan bagaimana kita secara bersamaan dapat menanggulangi masalah ini.

Lokasi  kegiatan “24 Hours of Reality” ini adalah  adalah Auckland, Beijing, Boulder, Canberra, Cape verde, Dubai, Durban, French Polynesia, Hawaii, Husavik, Ilulissat, Islamabad, Istanbul, Jakarta, Kotzebue, London, Mexico city, New Delhi, New York, Rio de Janeiro, Seoul, Solomon Islands, Tonga dan Victoria. (c8/lik)

"Berbahagialah dia yang makan dari keringatnya sendiri bersuka karena usahanya sendiri dan maju karena pengalamannya sendiri"
Nyai Ontosoroh