MenLH: Hasil Capaian Proper Hijau 2011

MenLH: Hasil Capaian Proper Hijau 2011

Kriteria PROPER  disusun sebagai peta jalan bagi perusahaan untuk mengimplementasikan konsep ECO ADVANTAGE

JAKARTA - Menteri Negara Lingkungan Hidup, Prof. Dr. Ir. Gusti Muhammad Hatta, MS. mengatakan, lingkungan ternyata dapat mendorong perusahaan untuk melakukan inovasi, menciptakan nilai-nilai dan membangun keuntungan kompetitif.

"Manajemen dapat mengurangi risiko lingkungan dengan jalan mengimplementasikan sistem manajemen lingkungan, sehingga potensi kerugian karena litigasi dan pelanggaran peraturan bisa dikelola dengan baik. Selain itu, Perusahaan juga dapat mengurangi biaya dengan menerapkan Eco-Efficiency, Eco-expense reduction dan Value chain eco – efficiency." ujarnya

Perusahaan dapat meningkatkan keuntungan atau menciptakan pasar baru dengan jalan menerapkan Eco design, Eco-sales and marketing, Eco defined new market space. Pada akhirnya akan terdapat satu keuntungan intangiable yang sangat mahal harganya yaitu pencitraan merek yang ramah lingkungan.

Perusahaan dapat mengembangkan keunggulan komparatif terhadap perusahaan sejenis atau menciptakan pangsa pasar dengan melakukan inovasi berdasarkan isu-isu lingkungan.

Kriteria Hijau dan Emas PROPER yaitu:

  1. Perusahaan yang baik adalah perusahaan yang mengelola lingkungan secara sistematis
  2. Sistem Manajemen Lingkungan mengharuskan perusahaan untuk melakukan perbaikan secara terus menerus, maka akan timbul inovasi-inovasi untuk membuat proses produksi barang dan jasa menjadi lebih efisien
  3. Setelah mengembangkan kebaikan-kebaikan di dalam perusahaan, maka perusahaan didorong untuk menebarkan kebaikan ke masyarakat di sekitarnya.

Beberapa hasil yang berhasil dicatat dari pelaksanaan PROPER adalah pencapaian-pencapaian perusahaan yang berkontribusi langsung terhadap penurunan emisi gas rumah kaca, antara lain:

  1. Chevron Geothermal Indonesia Ltd : perusahaan ini telah berpartisipasi secara langsung penurunan gas rumah kaca melalui pembangunan proyek rendah emisi dengan reduksi karbon sekitar 650,000 CO2 ton/tahun, dengan reduksi emisi yang telah disertifikasi atau Certified Emission Reduction (CERs)  sebanyak 90.804 CO2 ton, pada tanggal 11 Juni 2009
  2. PT Holcim Indonesia : berdasarkan data IEA (International energy  association dan WBCSD – CSI (Cement sustainable initiatives ) rata rata CO2 footprint pabrik semen dunia th 2012: 0.75 ton CO2 / ton semen, dan dari proses Thermal 2012  adalah  3.9 Gj/Ton
  3. PT Adaro Indonesia : melakukan berbagai upaya penghematan energi antara lain dengan pemanfaatan biodisel 20 % (B20) dari minyak jarak untuk kendaraan operasional berat
  4. PT Pertamina : pada tahun 2010 Pertamina dan Anak Perusahaannya  mengemisikan 231,68 juta ton CO2e
  5. PT Newmont Nusa Tenggara : Melalui efisiensi pemakaian solar untuk peledakan dan pemanfaatan oli bekas berhasil menurunkan emisi CO2 sebesar 9.785 ton dalam tahun 2009-2010.

Tantangan PROPER saat ini adalah menambah luas cakupan sehingga dampak peningkatan kinerja perusahaan dapat berpengaruh langsung terhadap kualitas lingkungan.

Jika pencapaian-pencapaian tersebut di sebarluaskan dan direplikasi serta dikembangkan oleh perusahaan-perusahaan lain di Indonesia, maka target penurunan gas rumah kaca 26% dari business as usual pada tahun 2020 akan dapat di penuhi.

Untuk memperluas dampak perbaikan lingkungan maka jumlah perusahaan peserta PROPER akan terus di tingkatkan, sehingga pada tahun 2014 ditargetkan mencapai 2000 perusahaan.

Salah satu strategi untuk memperluas cakupan PROPER adalah kerjasama dengan Pemerintah Provinsi:

  1. Pada  tahun 2010 telah bekerjasama dengan 8 Provinsi untuk penilaian peringkat biru, merah dan hitam
  2. Tahun 2011 akan ditingkatkan menjadi 14 Propinsi dengan mekanisme Dekonsentrasi – pelimpahan tugas perbantuan ke Provinsi untuk pelaksanaan pengawasan dan pemeringkatan sampai dengan biru;
  3. Tahun 2014 ditargetkan pemeringkatan biru-merah dan hitam akan diserahkan ke Provinsi. KLH akan focus kepada supervisi sistem penilaian yang dilakukan Provinsi dan hanya melakukan penilaian peringkat Hijau dan EMAS.

"Suatu masyarakat paling primitif pun, misalnya di jantung Afrika sana, tak pernah duduk di bangku sekolah, tak pernah melihat kitab dalam hidupnya, tak kenal baca-tulis, masih dapat mencintai sastra, walau sastra lisan."
Magda Peters