Pemerintah Tetapkan Kebijakan Upaya Perbaikan Gizi Di 1000 Hari Pertama

Pemerintah Tetapkan Kebijakan Upaya Perbaikan Gizi Di 1000 Hari Pertama

Periode 1000 hari pertama sering disebut window of opportunities atau sering juga disebut periode emas (golden period)

JAKARTA - Diskusi Kegiatan Lintas Sektoral Terkait Perbaikan Gizi pada 1000 Hari Pertama Kehidupan dalam upaya Kerja sama Lintas Sektoral demi Percepatan Pencapaian Tujuan Millenium Development Goals (MDG) 4 dan 5 berlangsung di Kantor Kemenkes RI, Jakarta (14/8)

Diskusi ini membahas periode 1000 hari pertama sering disebut window of opportunities atau sering juga disebut periode emas (golden period) didasarkan pada kenyataan bahwa pada masa janin sampai anak usia dua tahun terjadi proses tumbuh kembang yang sangat cepat dan tidak terjadi pada kelompok usia lain.

Periode awal kehidupan juga sering disebut periode sensitif. Perkembangan sel-sel otak manusia pada masa tersebut sangat menentukan, sehingga bila terjadi gangguan pada periode tersebut  akan berdampak permanen, tidak bisa diperbaiki.

“Karena itu, intervensi yang tepat pada kelompok tersebut sangat berdampak besar pada kualitas sumber daya manusia Indonesia ke depannya”, ujar Menkes, Seperti dilansir laman depkes

“Gagal tumbuh pada periode 1000 hari pertama kehidupan, selain akan mengakibatkan gangguan pertumbuhan fisik, juga akan menyebabkan gangguan metabolik, khususnya gangguan metabolism lemak, protein dan karbohidrat yang pada akhirnya dapat memicu munculnya penyakit tidak menular seperti obesitas, diabetes dan penyakit jantung koroner pada usia dewasa”, jelas Menkes

Sebagai wujud komitmen pemerintah, telah ditetapkan strategi prioritas mulai tahun 2012 sampai 2014. Terkait dengan upaya perbaikan gizi pada 1000 hari kehidupan, telah ditetapkan beberapa kebijakan, diantaranya:

  • Meningkatkan cakupan dan kualitas pelayanan kehamilan dan persalinan;
  • Melakukan sosialisasi dan pemantauan pelaksanaan UU nomor 36/2009 tentang Kesehatan dan PP nomor 33/2012 tentang Pemberian ASI Eksklusif;
  • Meningkatkan cakupan dan kualitas pelayanan gizi dan kesehatan melalui penyediaan dukungan tenaga, penyediaan obat gizi dan suplementasi yang cukup;
  • Meningkatkan kegiatan edukasi kesehatan dan gizi melalui budaya perilaku hidup bersih dan sehat;
  • Serta dengan meningkatkan komitmen berbagai pemangku kepentingan terutama lintas sektor, dunia usaha serta masyarakat untuk bersama-sama memenuhi kebutuhan pangan tingkat keluarga.

(c8/lik)

"Pernah kudengar orang kampung bilang: sebesar-besar ampun adalah yang diminta seorang anak dari ibunya, sebesar-besar dosa adalah dosa anak kepada ibunya.
Robert Suurhorf