Keluarga Korban Pengeroyokan Persoalkan Persidangan Mantan Ketua HIPMI Jatim

Ibu korban saat memberikan keterangan pada awak media

Surabaya – Mimi Lie, Ibu dari Jimmy, salah satu korban pengeroyokan yang dilakukan Giri Bayu Kusuma Mantan Ketua Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Jatim, mengaku kecewa dengan dunia peradilan, khususnya pada penanganan perkara yang menyebabkan anaknya cacat seumur hidup.

Warga Jalan Ngaglik 32 Surabaya ini melihat adanya kejanggalan saat kasus pengeroyokan ini mulai bergulir ke meja Pengadilan Negeri (PN) Surabaya. Kejanggalan itu disebutkan Mimi dimana saat pembacaan surat dakwaan hanya satu terdakwa saja yang diadili, sementara empat terdakwa lainnya tidak hadir dalam persidangan.

“Ini satu berkas, tapi saya dapat info kalau hanya Giri saja yang disidangkan, ada apa ini, yang ke empat nya kemana,” ungkap Mimi Lie didampingi Hermawan Benhard Manurung selaku kuasa hukumnya, Rabu (31/10).

Untuk mengungkap kejanggalan tersebut, pengusaha wanita kelahiran 54 tahun ini mengancam akan melaporkan jaksa dan Hakim yang menyidangkan perkara ini dan Ia pun meminta agar persidangan kasus ini dilakukan secara fair.

“Kalau tidak, saya akan laporkan ke Kejagung , Mahkamah Agung dan Komisi Yudisial,” pungkas Mimi.

Sementara, Hermawan Benhard Manurung selaku kuasa hukum korban menyesalkan dengan status tahanan kota yang diberikan ke para terdakwa pengeroyokan. Status tahanan kota itu dikhawatirkan justru akan mempersulit persidangan.

“Apalagi korban mengalami luka permanen dan yang pasti tahanan kota ini akan mempersulit proses persidangan, karena yang satu datang yang lain bisa gak datang akhirnya sidang ditunda-tunda,” kata Benhard.

Seperti diberitakan sebelumnya, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Damang Anubowo mengaku telah membacakan surat dakwaan bagi lima terdakwa dalam kasus pengeroyokan ini. Mereka adalah GirI Bayu Kusuma, Dewi Megawati Aldona Doni, Jenifer Berby Aldona Doni, Muhammad Rizzal dan Muhammad Baslum.

Atas dakwaan itu, Damang mengaku para pelaku pengeroyokan mengajukan eksepsi yang akan dibacakan pada persidangan selanjutnya.

Kasus ini terjadi di Club & Lounge Jimmys area Hotel JW Marriott Surabaya, Minggu (21/1/2018) sekitar pukul 02.30 dini hari. Saat itu Jimmy dan Handy masuk ke Jimmys Club dan sudah ada keributan antar dua kelompok.

Mengetahui keributan itu, Jimmy dan Handy pilih kembali keluar, namun saat melangkah keluar di lorong pintu club di samping kiri pintu utama hotel bintang lima di Jalan Embong Malang Surabaya itu Jimmy tanya pada Handy kenapa mereka ribut dan bilang gitu saja kok diributkan.

Akan tetapi, ucapan Jimmy terdengar oleh terdakwa Dewi Megawati Aldona Doni yang tadi dilihatnya ikut ribut di dalam club. Tak disangka, cewek itu marah dan mengejar Jimmy.

Handy berusaha menghalangi. Namun, terdakwa Dewi ganti mencekal krah baju Handy dengan melontarkan umpatan bernada kebencian “Rasis”. Sontak hal itu menyulut emosi terdakwa lainnya dan akhirnya bersama-sama ikut melakukan pemukulan terhadap para korban.

Akibat peristiwa tersebut membuat korban mengalami luka yang cukup serius, Handy mengalami luka di bagian pelipis mata kanan dan kiri, leher dan punggung, sementara Jimmy mengalami luka di bagian wajah dan punggung.  (son)