Ingatkan Amien Rais, Yusril: “Ucapan Pemimpin Adalah Sabdo Pandito Ratu, Tidak Boleh Mencla Mencle”

Jakarta – Ketua Umum Partai Bulan Bintang (PBB) Yusril Ihza Mahendra menanggapi pernyataan Amien Rais yang ingin maju sebagai calon presiden.

Dalam pepatah Jawa, kata Yusril, ucapan pemimpin itu adalah sabdo pandito ratu, ucapan seseorang yang kedudukannya sangat tinggi, bagai seorang pandito (guru maha bijaksana) dan seorang ratu (raja).

“Karena itu ucapan pemimpin itu haruslah ucapan yang serius dan terpercaya. Ucapan yang sudah dipikirkan dengan matang segala akibat dan implikasinya. Ucapan pemimpin itu akan menjadi pegangan bagi rakyat dan pendukungnya,” kata Yusril melalui akun Twitternya @Yusrilihza_Mhd, Senin (11/6).

Karena itu pula, katanya lagi, ucapan pemimpin itu harus lahir dari hati yang tulus, bukan kata bersayap. Yang seolah diucapkan dengan kejujuran, tetapi dibelakangnya mempunyai agenda pribadi yang tersembunyi.

“Karena ucapan pemimpin adalah sabdo pandito ratu, maka ucapannya tidak boleh “mencla mencle, pagi ngomong dele (kedelai-red), sore ngomong tempe”, artinya ucapannya berubah-ubah, inkonsisten, sehingga membingungkan rakyat dan pendukungnya,” sindir Yusril.

Karena ucapan pemimpin adalah sabdo pandito ratu, lanjutnya lagi, maka pemimpin itu tidak boleh “plintat plintut” alias “munafiqun”, dalam makna, lain yang diucapkan, lain pula yang dikerjakan. Pemimpin seperti ini akan kehilangan kredibilitas di mata rakyat dan pendukungnya.

“Berpedoman kepada pepatah Jawa sabdo pandito ratu itu, maka sejak awal saya tidak berminat ataupun tertarik dengan inisiatif Pak Amien Rais yang melakukan lobby sana-sini. Untuk memilih siapa yang akan maju dalam Pilpres 2019 hadapi petahana,” Yusril menegaskan.

Pengalaman, adalah guru yang paling bijak. Tahun 1999 dalam pertemuan di rumah Dr Fuad Bawazier, cerita Yusril, Amien ketika itu meyakinkan dirinya termasuk yang lain untuk mencalonkan Gus Dur. Ia dan MS Kaban dengan alasan tidak ingin mempermainkan orang untuk suatu agenda tersembunyi.

“Tahun 2018 inipun saya tidak ingin ikut-ikutan dengan manuver Pak Amien Rais, bukan karena saya apriori, tetapi saya belajar dari pengalaman. Saya kini Ketum Partai. Ibarat nakhoda, yang harus membawa penumpang ke arah yang benar, dengan cara-cara yang benar pula. Pengalaman tetaplah menjadi guru yang bijak bagi saya, dan mudah-mudahan bagi orang lain juga,” kata pungkasnya. (red)