GARA-GARA TUNGGAK KREDIT – DEBITUR BANK BUKOPIN DISEKAP DEBT COLLECTOR

Sannie Koerniawan bersama dua kuasa hukumnya saat mendatangi kantor bank Bukopin di Jl Panglima Sudirman, Surabaya.

Surabaya – Sannie Koerniawan, (44), warga Jl Kenjeran, Kelurahan Gading, Kecamatan Tambaksari, Surabaya, diduga menjadi korban penganiayaan oleh sekelompok orang yang mengaku sebagai Debt Collector dari bank Bukopin, di lantai III bank Bukopin Jl Panglima Sudirman, Surabaya.

Kejadian ini bermula pada saat Sannie Koerniawan, Sabtu, 16 Maret 2019 sekitar pukul 08.30 WIB didatangi oleh tiga orang pria tidak dikenal, yang mengaku sebagai debt collector, dirumahnya dengan meninggalkan surat panggilan.

“Surat itu berisi, yang intinya, agar supaya debitur yang merupakan klien kami ini, untuk datang ke kantor bank Bukopin di Jl Panglima Sudirman,” ujar Dodi Firmansyah, kuasa hukum Sannie Koerniawan, Selasa, (26/03).

Dodi mengungkapkan, Sannie Koerniawan diminta datang ke kantor bank Bukopin untuk menemui Immanuel. Kemudian pada hari Senin, 18 Maret 2019, sesuai permintaan dalam surat panggilan itu, Fitri, kerabat Sannie Koerniawan, mendatangi kantor bank Bukopin.

Disana, Fitri bertemu dengan Imanual, yang disebutkan oleh Dodi sebagai koordinator debt collector bank Bukopin. Kehadiran Fitri bertujuan untuk melakukan pelunasan tunggakan kartu kredit senilai Rp5 juta dari total tunggakan senilai Rp19 juta.

“Namun etika pelunasan tersebut ditolak oleh bapak Imanuel,” ungkap Dodi.

Selanjutnya, Rabu, 20 Maret 2019, lima orang debt collector kembali mendatangi rumah Sannie Koerniawan  dengan meminta uang tagihan senilai Rp25 juta dengan melakukan intimidasi pada ayah Sannie Koerniawan.

Sementara itu, Sannie Koerniawan mengaku bahwa kelima orang debt collector itu menekan agar Sannie Koerniawan mendatangi kantor bank Bukopin di Jl Panglima Sudirman, Surabaya. Sannie Koerniawan pun datang dan bertemu dengan Imanuel.

“Pada hari itu juga saya datang ke bank Bukopin sekitar pukul 11.45 WIB, dan saya bertemu dengan bapak Immanuel. Disitu saya mencoba melakukan etika pelunasan senilai Rp7,5 juta, tapi ditolak sama pak Immanuel,” aku Sannie Koerniawan.

Tak terima dengan nilai yang hendak diberikan oleh Sannie Koerniawansebagai pelunasan awal, lima orang debt collector kembali memasuki ruangan, tempat Sannie Koerniawan bertemu dengan Imanuel. Saat itulah terjadi intimidasi.

“Saya disekap, tidak boleh keluar. Para debt collector ini menendang kursi, mendorong badan saya dengan keras, sehingga saya jatuh, dan menendang dengan keras kaki saya sampai memar. Saya juga diancam. Padahal disitu juga ada pak Imanuel,” tukas Sannie Koerniawan.(asb)