Film Indonesia Satu Diproduksi di Tumpang Kabupaten Malang

Malang – Proyek pembuatan film Indonesia Satu sudah dimulai, film yang berasal dari lagu Indonesia Satu ciptaan Sastro Harijanto Tjondrokusumo itu mulai di produksi di Tumpang Kabupaten Malang 25 Juni sampai 3 Juli.

Menurut Sastro Harijanto Tjondrokusum dipilihnya Tumpang sebagai lokasi syuting karena daerah ini memiliki pesona alam yang sangat indah, kemudian juga ada beberapa situs peninggalan Kerajaan Singosari seperti Candi Kidal. Selain itu di Tumpang juga memiliki beberapa destinasi wisata seperti Bukit Bidadari.

“Alam di Tumpang sangat bagus dan cocok untuk pembuatan film ini, keindahan alamnya, kultur masyarakat dan ada beberapa situs sejarah disini,” kata Sastro Harijanto Tjondrokusumo, Minggu (1/7).

Lebih lanjut pria yang akrab disapa Hari itu menjelaskan, film ini diperankan oleh anak-anak dan beberapa orang dewasa. Dalam film ini juga mengambarkan kondisi politik, perbedaan dan beberapa masalah yang ada di Indonesia.

“Film ini sebagai media dan menunjukkan situasi kejadiaan seperti saat ini semua berlomba lomba mengatasnamakan kepentingan rakyat padahal demi kepentingan golongan. Kita juga menggugah masyarakat agar jangan di nina bobokan dengan janji-janji yang tidak jelas ujungnya,” kata Hari.

Setelah diproduksi film semi musical ini rencanannya akan di bedah oleh para tokoh film di Jatim, kemudian akan ditayangkan saat HUT Kemerdekaan RI Bulan Agustus mendatang secara gratis.

“Rencanannya kita akan membuat nobar agar semua masyarakat bisa menonton film ini,” kata Hari yang juga menjabat sebagai Ketua Persatuan Artis Penyanyi Pencipta Lagu dan Pemusik Republik Indonesia (PAPPRI) Jatim.

Sinopsis Indonesia Satu yang digarap sutradara dan penulis skenario Handoko AN mengisahkan, satu keluarga sederhada yang utuh bahagia saat itu kedatangan tamu, dan memberikan hadiah salah satunya baju berwarna, merah, putih, biru, kuning, dan sebagainya.

Setelah tamu pulang, ibu ini kemudian membagikan hadiah bajunya. Bukannya senang, sang anak malah berebut pakaian yang sudah dibagikan. Melihat anaknya bertengkar sang ibu bersedih.

Namun ia memberi nasihat, mendamaikan sekaligus memberikan wejangan tentang kebersamaan, kekompakan meskipun berbeda warna. Dengan nasihat yang ada, akhirnya mereka bisa damai dan bergandengan tangan kembali.

Sang ibu ini kemudian bersedih dan keluar rumah, dan kebetulan ada pelangi. Ibu ini senang melihat warna pelangi berbeda-beda namun indah bersatu untuk dilihat.

Penulis skenario Handoko menjelaskan, film Indonesia Satu itu dibuat berdasarkan lima lagu yang diciptakan Harijanto.

“Gabungan dari lima lagu tersebut dan kita beri judul Indonesia Satu,” katanya. (*)