Web Rumah Ratna: Kumpulan Cerpen Ratna Indraswari Ibrahim

Web Rumah Ratna: Kumpulan Cerpen Ratna Indraswari Ibrahim

Sejumlah sastrawan Malang berkumpul dalam acara peresmian website rumahratna.com, situs ini berisi tentang karya ratna serta informasi kegiatan para penggiat budaya dan sastra

MALANG - Memperingati 40 hari meninggalnya cerpenis Ratna Indraswari Ibrahim (alm) yang jatuh pada Sabtu (7/5), secara resmi diluncurkan website, www.rumahratna.com, Jl. Diponegoro 3, oleh keluarga besar Saleh Ibrahim.

Ini dilakukan untuk mengenang jejak karya almarhum yang tersebar diberbagai media, baik dalam bentuk cerpen, profil maupun kegiatan lain yang pernah ia lakukan.

“Ia pernah bilang, Jang kita bisa membangun Borobudur di Malang. Agar Orang memiiki tujuan untuk datang kemari. Saya bilang tidak mungkin Rat, membangun candi sebesar itu di sini. Tetapi ia meyakinkan saya, kita pasti bisa. Dan, saya yakin bisa dengan bantuan semua teman-teman,” kata Syaifudin yang biasa di sapa Ujang, dalam sambutan peluncuran website.

Adapaun acara di awali dengan tahlilan, mulai pukul 18.30 WIB.  Sanjutnya peluncuran web site yang dihadiri oleh seniman, budayawan, akademisi, dan tokoh sepakbola. Adapun seniman yang datang berasal dari Malang, Yogyakarta, Mojokerto, dan Kediri.

Sejumlah orang difabel juga hadir. dan pembacaan karya almarhum, seperti Rambunt Juminten oleh Lyla, mahasiswi UM. Diatas panggung sederhana yang ada di halaman rumah, secara bergantian sejumlah teman dan sahabat bergiliran menyampaikan testimoni, membacakan puisi, dan membawakan lagu.

Diantaranya Lucky Adrianda Zainal. Pendiri klub sepakbola Arema Indonesia ini menyampaikan testimony tentang dirinya dan Ratna. Ia bercerita jika sudah lama mengetahui nama Ratna tapi baru mengenal Ratna lebih dekat justru saat ia mendapat “ujian” dari Tuhan berupa kebutaan total pada 2006.

Kebutaan membuat dirinya nyaris tak berdaya. Frustrasi, kehilangan kepercayaan diri, dan merasa menjadi manusia yang tak berharga. Menurut Lucky, kelebihan Ratna terletak pada semangatnya juang yang tinggi, tak mengenal lelah untuk terus berkarya dan menjadi aktivis sosial-budaya.

“Ratna menginspirasi saya untuk selalu jadi manusia yang tahu arti bersyukur kepada Tuhan dengan segala kondisi kita, serta pantang mengeluh. Terima kasih Ratna, kau telah bangkitkan semangatku,” kata Lucky, yang kemudian memadukan komposisi Summertime karya George Gershwin dengan lagu Es Lilin dalam tiupan harmonikanya.

Yusri Fajar, dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Brawijaya, menarasikan prolog novel Lemah Tanjung, salah satu novel karya Ratna yang paling terkenal. Diterbitkan pada 2003, Lemah Tanjung dibuat berdasarkan kisah nyata tentang perlawanan warga Kota Malang menentang pembangunan rumah mewah di lahan kota seluas 28,5 hektare, bekas kampus Akademi Penyuluh Pertanian. Perumahan itu mewujud dengan nama Irjen Nirwana Residence, Grup Bakrie.

Dimana Ratna intensif terlibat menentang pengalihan fungsi hutan kota itu. Tak hanya turun ke jalan untuk menentangnya, ia pun menghadirkan lewat tokoh Mbak Syarifah.

“Novel Lemah Tanjung memiliki banyak dimensi, seperti lingkungan, kemanusiaan, sejarah. Tapi yang jelas, novel ini fenomenal karena jadi bukti perlawanan rakyat terhadap keserakahan kapitalisme,” kata Yusri.

Yusri akan mempresentasikan novel Lemah Tanjung dalam konferensi internasional bidang humaniora di Penang, Malaysia, pada Juni mendatang. Ia bertekad mengenalkan karya-karya Ratna di kancah sastra internasional dengan menerjemahkannya ke dalam beberapa bahasa asing, terutama ke dalam bahasa Inggris.

Selain itu acara juga diwarnai dengan penampilan Arbanat String Quartet,  SWARA Charles "Jalu", pembacaan puisi oleh Nanang Suryadi dan masih banyak lagi, hingga di sudahi sampau pukul 23.00.

Menurut Iman Suwongso, pengelolah website menyampaikan, pembuatan website ini bagian mimpi Ratna untuk mengenalkan karya-karyanya ke jagat internasional. Sekaligus untuk mendokumentasikan semua karya Ratna. Selama ini diketahui Ratna telah membuat sekitar 400 cerita pendek dan cerita bersambung, ditambah sejumlah novel. Tapi sebagian masih tercecer.

“Kami ingin dengan adanya website ini, karya-karya Mbak Ratna bisa terdokumentasi dengan baik sehingga bisa diakses secara luas oleh siapa pun. Agar lebih interaktif, kami sediakan ruang buku tamu dan forum bagi pengunjung,” kata Giman, seraya menambahkan pembuatan website sekaligus melengkapi keberadaan Toko Buku Kita alias Tobuki.

Untuk sementara, website baru berisi biodata, karya-karya, dan galeri foto tentang Ratna. Juga ada ruang testimoni “Aku & Ratna”.

Saat ini website terus disempurnakan sehingga nanti kontennya makin beragam dan luas tak hanya tentang profil dan karya-karya Ratna, tapi juga karya-karya sastra dari sastrawan lain, juga agenda kegiatan budaya.

Selain itu, sebagai bentuk kedekatan Ratna kepada teman-temanya malam itu, dibagikan 300 buku in memoriam ber titel “Saya dan Mbak Ratna” yang ditulis oleh 28 sahabat almahruma, diantaranya Eka Budianta, Helvy Tiana Rosa, Abdul Malik dan D. Zawawi Imron. (Titik Qomariyah)

"Saya pribadi, Presiden Akayev, tidak pernah dan tidak mempunyai keinginan apapun untuk mengganti konstitusi dengan tujuan memperpanjang masa jabatan saya"
Presiden Askar Akayev