Dua pelaku pembunuhan pemilik Warkop ditangkap, satu diantaranya dari Tuban, begini motifnya

AKBP Leonard Sinambela dan Kompol Lily Dja'far saat merilis hasil ungkap kasus pembunuhan.

Wartapedia, Surabaya. Peristiwa pembunuhan terhadap seorang wanita tua pemilik warung kopi, pada 31 Agustus 2017 lalu, akhirnya terungkap.

Sebagaimana diketahui, pemilik warung kopi bernama Suwatik (55) warga Jalan Raya Lakarsantri RT 1, RW 1 Surabaya, ditemukan tewas bersimbah darah dengan sejumlah luka tusuk pada beberapa bagian tubuh.

Kasus pembunuhan ini terungkap, setelah Satreskrim Polrestabes Surabaya, menangkap dua orang pelaku.

Mereka adalah Muhammad Rifai (33) asal Tinalan, Kediri, yang tinggal di Jalan Bagong Ginayan No 661, Gubeng Surabaya, dan Arwan Widiantara (34), warga Pucang Kerep, Pucang Sewu, Surabaya.

Kasat Reskrim Polrestabes Surabaya, AKBP Leonard Sinambela mengatakan, dari dua pelaku ini, masih ada satu lagi orang pelaku yang masih dalam perburuan.

Pelaku yang sedang dalam perburuan itu sendiri, merupakan eksekutor. Dia berinisial AD (DPO).

“Dengan kerja keras dan penyelidikan, Alhamdulillah hampir sempurna. Dua dari tiga tersangka pelaku curas dengan TKP Lakarsantri dapat kami tangkap,” kata Leonard, Kamis (14/9).

Sejumlah barang bukti yang ditemukan petugas di lokasi pembunuhan.

Dalam kurun waktu selama dua minggu setelah peristiwa tersebut, Rifai dan Arwan ditangkap dipersembunyiannya masing-masing.

Rifai ditangkap di dekat tempat kostnya, yakni di Gang Kelinci Jalan Bumiajro, Wonokromo, Surabaya. Sedangkan Arwan, ditangkap di daerah asalnya yaitu Dusun Talang Kembar, Krajan, Montong, Tuban.

Leonard menuturkan, kedua pelaku terpaksa harus dihadiahi timah panas pada bagian betis, lantaran berusaha melawan saat hendak dilakukan penangkapan.

Saat beraksi, tiga perampok ini memiliki peran masing-masing. Rifai bertugas memantau situasi warung milik Watik dengan sering menyatroni warungnya.

Setelah warung tutup, sekitar pukul 01.00 Wib dini hari, Rifai dan AD (DPO) kembali datang ke warung itu dan meminta perhiasan serta barang berharga milik korban.

Sedangkan pada saat yang sama, Arwan bertugas memantau situasi di luar lokasi untuk memastikan kondisi saat berlangsungnya aksi mereka itu aman.

“Korban sempat berontak dan berupaya melawan, hingga tersangka AD (DPO) mengeluarkan pisau dan menghujamkan ke tubuh korban. Tak hanya itu, Rifai juga ikut mengambil pisau untuk melukai korban hingga meninggal dunia,” tuturnya.

Dari hasil perampokan yang dilakukan, para pelaku berhasil menggondol harta milik Watik dengan total sekitar Rp. 7 juta.

Tidak hanya harta yang dalam bentuk perhiasan, para pelaku juga membawa kabur satu unit sepeda motor milik korban, Honda Beat dengan nopol L 6288 NM, namun belum sempat dijual.

“Motor itu dititipkan di rumah temannya di Sidoarjo. Mereka juga merampas dua handphone korban. Tersangka Rifai mendapat bagian Rp 2,5 juta dan Arma mendapat Rp 2 juta,” terang Leonard.

Kepada petugas saat dilakukan penyidikan, para pelaku mengaku tidak bermaksud untuk membunuhnya. Namun karena korban memberontak saat diminta untuk menyerahkan hartanya, maka para pelaku terpaksa membunuhnya.

Atas kasus ini, terhadap AD (DPO) yang masih dalam perburuan, Leonard memberikan ultimatum agar segera menyerahkan diri.

“Kami sudah mendeteksi persembunyiannya, dan anggota sedang mendekat. Sebaiknya menyerahkan diri, sebelum kami melakukan tindakan tegas terukur,” tandas leonard.

Sementara untuk kedua pelaku yang sudah tertangkap, petugas menerapkan Pasal 365 ayat 4 KUHP tentang pencurian dengan kekerasan, dan pasal 338 KUHP tentang menghilangkan nyawa orang lain, dengan ancaman hukuman maksimal hukuman mati.

Perlu diketahui, peristiwa pembunuhan terjadi di warkop Melek di Jalan Raya Lakarsantri RT 1, RW 1 Surabaya. Korban merupakan pemilik warung kopi bernama Suwatik alias Watik. Orang yang pertama kali menemukan jenazahnya adalah Kholil, orang kepercayaan Watik.

Watik ditemukan tewas Kamis pagi, 31 Agustus 2017 sekitar pukul 09.30 WIB. Saat dicek, ada luka bekas senjata tajam di bagian leher. Lalu, bercak darah berceceran di lantai kamarnya. Polisi kemudian memasang garis polisi atau police line di TKP agar tidak ada orang yang masuk kesana.(zn/asb)