Dua Buoy rusak di tabrak Kapal Pelni, Disnav tuntut ganti lengkap dan utuh

Wartapedia, Surabaya. Dua unit perangkat rambu laut (buoy) mengalami kerusakan dan tidak berfungsi sebagaimana semestinya. Kerusakan tersebut bukan tanpa sebab, dua unit buoy diketahui rusak karena di tabrak oleh kapal penumpang milik PT. Pelayaran Nasional Indonesia (Pelni).

Kepala Kantor Distrik Navigasi (Disnav) Kelas I Surabaya, Basar Antonius mengatakan, pihak menuntut PT. Pelni untuk mengganti secara lengkap dan utuh dua unit buoy yang dipasang di sepanjang lintasan alur pelayaran barat maupun timur Surabaya.

“Kami meminta penggantian untuk pemakaian bouy baru yang dipasang sebagai penggantinya,” kata Basar, Senin (11/09).

Basar mengungkapkan, semenjak ditemukan dua buoy yang rusak ditabrak kapal penumpang Pelni, Disnav Kelas I Surabaya telah mengajukan penggantian barang kepada BUMN pelayaran tersebut. Bahkan, lanjut Basar, hingga kini urusan penggantian barang berupa rambu laut tersebut belum juga terealisasi.

“Sampai sekarang, kami terus menagih dan mendesak untuk segera ada penggantian dari pihak penabrak. Dalam hal ini, Navigasi menuntut pelaku segera mengganti kerusakan dalam bentuk barang berupa perangkat bouy lengkap dengan lampunya,” ungkapnya.

Lebih jauh Basar menuturkan, sebenarnya, kerusakan buoy yang diduga akibat ‘tabrak lari’ kapal yang melintas di sepanjang Alur Pelayaran Barat Surabaya (APBS) dan Alur Pelayaran Timur Surabaya (APTS) berjumlah 3 unit.

Dari dua buoy yang ditabrak kapal penumpang PT Pelni, satu rambu ditabrak pemilik tongkang Dewaruci sehingga menyebabkan pergeseran posisi semula ke arah alur. “Kasus tabrakan tiga buoy yang terjadi di APBS itu adalah paling baru, dan tercatat hingga akhir Agustus 2017 lalu,” tutur Basar.

Praktis, tiga buoy yang rusak berat dan tidak lagi berfungsi karena lampunya hilang akibat ditabrak kapal itu terpaksa diamankan agar tidak menjadi obstacle baru di alur. Dengan rusaknya rambu itu, memaksa lembaga navigasi pelayaran yang berkantor di Tanjung Perak itu melakukan perbaikan hingga kondisinya pulih dan bisa difungsikan sebagaimana mestinya.

“Yang pasti, kasus penabrakan buoy masih saja terjadi di lintasan sepanjang APBS. Setelah menabrak, ditinggalkan begitu saja. Kami berharap, seluruh pengguna alur pelayaran kembali memahami pentingnya menjaga SBNP (sarana bantu navigasi pelayaran, red) demi keselamatan pelayaran,” ujar Basar.

Terpisah, Direktur Kenavigasian, Direktorat Jendral Perhubungan Laut, Ir. I Nyoman. Sukayadnya mengatakan, kedepan buoy yang terpasang di lintasan pelayaran nusantara akan dilengkapi alat pendeteksi, Aids to Navigation (AIS AtoN). Sebab, alat deteksi canggih Vessel Traffic System (VTS) yang selama ini digunakan sebagai sarana kenavigasian kemampuan deteksinya sebatas memantau titik rambu.

“Tapi, (VTS, red) belum sampai mengidentifikasi pelaku. Tapi dengan Ais AtoN, Navigasi dapat melihat dan mengetahui pelaku yang terekam di VTS. Ais AtoN ini, kami rencanakan pengadaanya tahun 2018,” ungkap Nyoman tanpa menyebut nilai pengadaan barangnya. “Saya khawatir salah, karena spesifikasinya belum diketahui,” sambungnya dikonfirmasi wartawan.

Untuk diketahui, AIS merupakan sistem pelacakan otomatis yang difungsikan sebagai penghindar tubrukan pada kapal. AIS Transceiver, secara otomatis mengirim informasi seperti posisi, kecepatan dan status navigasi secara berkala menggunakan VHF Transceiver yang terpasang pada unit Transceivernya. Sinyal diterima AIS Transceiver yang terpasang pada kapal lain atau Land Based Systems, seperti VTS.

Sedangkan, Aids to Navigation (AtoN), Shore atau Buoy transceifer yang beroperasi menggunakan Fixed-Access Time-Division Multiple-Access (FATDMA), didesain untuk mengumpulkan serta mengirim data tentang keadaan laut dan cuaca, sekaligus melanjutkan pesan AIS ke jaringan yang lebih luas.(rud/ms/sa)