Dinilai Banyak Lakukan Kelalaian, Pengacara Eggy Sudjana Somasi Dewan Pers

Jakarta – Beberapa waktu belakangan, viral soal kematian salah seorang wartawan asal Kalsel, Alm M Yusuf, yang banyak pihak menilai kematiannya dipenuhi dengan kejanggalan, Rabu (01/08).

Bahkan beberapa organisasi pers spontan bereaksi keras dengan mengadakan unjuk rasa di kantor Dewan Pers Kebon sirih pada 4 Juli 2018 yang lalu.

Sementara itu, berdasarkan rilis yang dikirimkan pada redaksi, pengacara kondang tersebut dengan tegas melayangkan somasi pada institusi Dewan Pers. Apa isi somasi tersebut? Silahkan disimak.

Menurut Eggi Sudjana & Partners yang dalam hal ini bertindak untuk dan atas nama Suriyanto, SH, MH, M.Kn, dan Heintje Grontson Mandagie, atas dasar Surat Kuasa Khusus Nomor: 031/ESP/B-SK/VII/2018 tanggal 31 Juli 2018 (fotocopy terlampir).

Ia menyatakan bahwa menanggapi surat Dewan Pers Nomor: 371/DP/K/VlI/2018 tentang “Protes sejumlah orang yang mengatasnamakan wartawan, organisasi wartawan maupun perusahaan pers” yang saudara tandatangani selaku Ketua Dewan Pers, maka atas dasar tersebut, Dr. H. Eggi Sudjana, SH dari kantor pengacara Eggi Sudjana & Partners Law Firm menyampaikan Teguran (SOMASI) pada saudara selaku Ketua Dewan Pers, atas perbuatan yang saudara lakukan melalui surat tersebut di atas yang isinya mengandung tuduhan tanpa bukti, fitnah, pencemaran nama baik yang berpotensi merusak kredibilitas dan reputasi klien kami.

Sementara itu dalam isi surat tadi, ada 15 point somasi yang disampaikan oleh Eggi Sudjana,
yang pertama adalah bahwa, Dewan Pers harus segera melayangkan surat permintaan maaf kepada Klien Kami dengan tembusan ke seluruh instansi yang sama seperti pada surat yang dimaksud di atas.

“Bahwa, Dewan Pers harus segera meminta maaf secara terbuka melalui seluruh media nasional, cetak maupun elektronik, terkait kematian wartawan Kemajuan Rakyat, almarhum Muhammad Yusuf akibat rekomendasi saksi ahli Dewan Pers (red – Leo Batubara) kepada pihak kepolisian.

Dewan Pers yang seharusnya menjadi lembaga yang paling memahami mekanisme pemberitaan di media massa tapi pada prakteknya sangat tidak mengerti dan tidak professional.

Buktinya, almarhum Muhammad Yusuf sebagai wartawan di media Kemajuan Rakyat seharusnya tidak bisa dimintai pertanggung- jawabannya terkait hasil liputannya yang dimuat di media Kemajuan Rakyat.

Alasannya, mekanisme keredaksian di seluruh media di jagad raya ini adalah setiap berita yang diliput oleh reporter atau wartawan itu harus diajukan dulu kepada redaktur dan jika diangap sudah berimbang, atau cover both side, baru disetujui oleh pimpinan redaksinya sebagai penanggung-jawab kemudian dinyatakan Iayak ditayangkan atau dipublikasikan.

Jadi penilaian saksi ahli Dewan Pers (red – Leo Batubara) yang berujung rekomendasi kepada aparat berwajib bahwa berita yang dimuat Media Kemajuan Rakyat adalah karena kesalahan almarhum dan bukan penanggung-jawab, adalah sangat tidak profesional.

Karena almarhum dianggap bukan wartawan akibat belum ikut UKW dan medianya belum diverifikasi, serta berita yang dimuat tersebut dinilai bukan sebagai karya jurnalistik dan melanggar kode etik jurnalistik.

Kekeliruan rekomendasi Dewan Pers ini yang wajib dijelaskan kepada masyarakat lewat permohonan maaf melalui media massa,” demikian isi surat somasi point kedua, Rabu(01/08)

Kemudian pada poin ketiga Eggi Sudjana menyampaikan bahwa, kematian Sdr. Muhammad Yusuf (alm.) merupakan takdir Allah SWT. Namun kausalitasnya menjadi tanggung jawab manusia yang terkait dengan peristiwa kematian tersebut.

Oleh karena itu, ada keterkaitannya dengan tindakan dari Dewan Pers yang memberi rekomendasi saksi ahli (red – Leo Batubara) yang menyatakan bahwa berita yang ditulis oleh Alm. Muhammad Yusuf bukanlah sebuah karya Jurnalistik dan melanggar kode etik jurnalistik.

Serta, Alm. Muhammad Yusuf dianggap bukan wartawan karena belum mengikuti uji kompetensi wartawan.

Sehingga dengan rekomendasi ini, Almarhum ditahan pleh pihak kepolisian, dan diduga adanya penganiayaan karena terdapat tanda lebam di tubuh Almarhum.

Dari perbuatan tersebut, Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers berlaku, yang dengan demikian Dewan Pers wajib menyantuni keluarga korban almarhum Muhammad Yusuf, terutama kepada kedua orang anaknya; jika tidak, kami akan melaporkan tindakan saudara karena tindakan saudara diduga ikut serta dalam penganiayaan tersebut yang menyebabkan hilangnya nyawa orang lain.

“Dewan Pers harus segera mencabut dan menghentikan kebijakan dan peraturan-peraturan di bidang pers tentang pelaksanaan veriflkasi media yang sudah melampaui kewenangan dan fungsi Dewan Pers serta bertentangan dengan UU Nomor 40 tahun 1999 tentang Pers,” lanjut surat somasi tadi.

Sementara pada poin kelima, Eggi menambahkan, bahwa Dewan Pers wajib meminta maaf kepada seluruh media massa yang belum diverifikasi melalui seluruh media nasional baik cetak maupun elektronik untuk memulihkan kredibilitas dan kepercayaan publik terhadap media yang dilecehkan tersebut.

“Dewan Pers wajib meminta maaf kepada seluruh organisasi pers yang disebut penumpang gelap dan mengatasnamakan organisasi pers serta mengaku wartawan dan mewakili wartawan dalam aksi protes di gedung Dewan Pers tanggal 4 Juli 2018 Ialu, melalui seluruh media nasional, baik cetak maupun elektronik, untuk memulihkan kredibilitas dan reputasi organisasi-organisasi pers yang merupakan Klien Kami,” lanjut Eggi Sudjana di poin keenam.

Selain itu, Dewan Pers harus segera mencabut dan menghentikan seluruh kebijakan dan peraturan-peraturan Dewan Pers di bidang pers tentang standar kompetensi wartawan, penunjukan lembaga sertifikasi profesi, pelaksanaan Uji Kompetensi Wartawan, Surat Keputusan Dewan Pers tentang penetapan 27 LSP, yang melampaui kewenangan dan fungsi Dewan Pers, serta bertentangan dengan UU Nomor 40 tahun 1999 tentang Pers dan UU Nomor 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan.

“Dewan Pers harus segera mencabut dan menghentikan seluruh rekomendasi Dewan Pers terhadap wartawan dan media yang menjadi teradu akibat permasalahan pemberitaan dan menyerahkan kepada organisasi pers untuk diproses melalui sidang majelis kode etik di masing-masing organisasi pers, dan tidak diserahkan ke pihak berwajib, agar kriminalisasi terhadap pers tidak terulang kembali,” tegasnya.

Selanjutnya adalah, di point sembilan, Eggi mengatakan, bahwa Dewan Pers segera menyerahkan seluruh kewenangan pengaturan di bidang pers kepada organisasi-organisasi pers untuk menetapkan peraturan-peraturan di organisasi pers masing-masing sehingga pelaksanaan verifikasi media, sertifikasi kompetensi wartawan, dan pembentukan Lembaga Sertifikasi Profesi diserahkan kepada mekanisme organisasi pers masing-masing lewat pengajuan lisensi melalui lembaga resmi yang dibentuk Pemerintah, dalam hal ini Badan Nasional Sertifikasi Profesi atau BNSP.

“Dewan Pers segera membuat Iaporan kepada Kami Masyarakat Pers tentang penarikan dana atau biaya Uji Kompetensi Wartawan (UKW) sebesar Rp 1.500.000, sampai dengan Rp 3.500.000; per orang, sementara di lain pihak Dewan Pers mendapat kucuran dana miliaran rupiah dari APBN,” sebut dia.

Dewan Pers Wajib mengumumkan atau membuat laporan kepada pemerintah,lanjut Eggi Sudjana di poin sebelas, dalam hal ini Kemenkominfo, terkait pengelolaan gedung Dewan Pers yang di dalamnya terdapat kegiatan ekonomi atau praktek sewa pakai ruangan kantor kepada pihak Iain di luar Dewan Pers.

Setiap aset milik pemerintah yang dikelola dan ada kegiatan ekonomi di dalamnya wajib dilaporkan ke pemerintah agar bisa diatur tentang potensi penerimaan negara.

Jika biaya sewa pakai ruang kantor gedung Dewan Pers tidak dilaporkan ke pemerintah dan pengelolaan keuangannya tidak dilaporkan pula maka ada potensi kerugian negara di dalamnya.

“Pernyataan Dewan Pers lewat surat tersebut di atas berpotensi menghilangkan kesempatan dan lapangan pekerjaan bagi ratusan ribu wartawan yang bekerja di 43 ribu media karena ditutupnya akses untuk memperoleh informasi dan ekonomi dari seluruh jajaran pemerintahan di pusat maupun di daerah, termasuk ke perusahaan di seluruh Indonesia. Padahal pemerintah kini tengah gencar berupaya menciptakan lapangan pekerjaan, namun Dewan Pers justru sibuk memberangus perusahaan media. Ini akan berdampak buruk bagi puluhan rIbu perusahaan pers tersebut dan dapat menciptakan ratusan ribu pengangguran baru,” imbuh Eggi Sudjana.

Sementara itu, masih menurut Eggi Sudjana, Dewan Pers yang pengangkatannya disahkan oleh Presiden Republik Indonesia harus memahami bahwa secara hukum, setiap warga negara memiliki hak untuk mendapatkan pekerjaan dan penghidupan yang layak sebagaimana disebutkan dalam Undang-undang Dasar 1945 Pasal 27 Ayat (2).

Kemudian dalam Pasal 9 ayat (1) UU Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia, juga menyebutkan bahwa setiap orang berhak untuk hidup, mempertahankan hidup, dan meningkatkan taraf kehidupannya.

Selain itu, dalam Pasal 11 UU Nomor 39 Tahun 1999 tentang HAM, menyebutkan setiap orang berhak atas pemenuhan kebutuhan dasarnya untuk tumbuh dan berkembang secara layak.

Oleh karena itu, untuk mewujudkan atau meningkatkan taraf kehidupan yang layak bagi setiap warga Indonesia, pemerintah wajib menciptakan lapangan pekerjaan untuk seluruh warga Indonesia.

Ini sesuai dengan kewajiban pemerintah atas pemenuhan hak-hak warga Indonesia, sebagaimana telah disebutkan dalam Pasal 71 UU Nomor 39 Tahun 1999 tentang HAM yang menyatakan bahwa pemerintah wajib dan bertanggung jawab, menghormati, melindungi, menegakkan, dan memajukan Hak Asasi Manusia yang diatur dalam undang-undang ini, peraturan perundang-undangan lain, dan hukum internasional tentang hak asasi manusia yang diratifikasi oleh negara Republik Indonesia.

“Presiden Republik Indonesia Joko Widodo harus segera mengambil tindakan tegas kepada Dewan Pers yang telah menyebabkan kematian seorang wartawan akibat rekomendasinya menyerahkan permasalahan pers ke proses hukum pidana, sangat memprihatinkan, bahwa berita yang dibuat oleh almarhum Muhammad Yusuf seharga nyawanya sendiri. Pers Internasional bahkan sudah bereaksi keras, tapi Presiden RI yang seharusnya melindungi rakyatnya, malah diam saja,” ujar dia.

Dan terakhir, Presiden Rl Joko Widodo diminta segera memerintahkan Kemenkominfo untuk mengganti kepengurusan Dewan Pers yang dipimpin oleh Yoseph Adi Prasetyo dan mengubah mekanisme rekrutmen anggota Dewan Pers sesuai dengan asas demokratisasi, yang tidak hanya ditentukan oleh unsur SPS, PRSSNI, ATVSI, ATVLI, PWl, Al. IT], tetapi sangat perlu dilibatkan dari unsur Sekber Pers Indonesia dan Masyarakat Pers seluruh Indonesia.

“Surat teguran kami ini kepada Dewan Pers dan ditembuskan kepada Presiden Republik Indonesia untuk diperhatikan dan dilaksanakan. Apabila dalam tempo 3X24 jam tidak mengindahkan somasi/teguran ini, maka kami akan menempuh jalur hukum sesuai dengan peraturan yang berlaku,” tandas Eggi Sudjana di point kelima belas.

Surat somasi ini ditandatangani langsung oleh DR. H. Eggi Sudjana. S.H. M.Si sebagai Advokat dengan tembusan pada beberapa petinggi negara, diantaranya Presiden RI Ir. H. Joko Widodo, Menteri Koordinator Polhukam, Menteri Sekretaris Negara, Menteri Dalam Negeri, Menteri Komunikasi dan Informatika, Panglima Tentara Nasional Republik Indonesia, Kepala Kepolisian Republik Indonesia, Jaksa Agung Republik Indonesia, Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional, Para Pimpinan BUMN/BUMD, Para Karo Humas dan Protokol Pemprov. Pemkab/Pemkot se-Indonesia, serta para Pimpinan Perusahaan seluruh Indonesia. (LH)