Bonek dan PSHT Surabaya bentrok, Polrestabes Surabaya gelar mediasi

Wartapedia, Surabaya. Peristiwa bentrok yang mengakibatkan meninggalnya seseorang kembali terjadi di Surabaya. Kali ini, dua kubu antara suporter Bonek Surabaya dan Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) Surabaya terlibat dalam peristiwa memilukan.

Sekitar pukul 23.00 WIB, massa Bonek yang dalam perjalanan pulang seusai menonton pertandingan Persebaya melawan Persigo Semeru FC Lumajang di Stadion Gelora Bung Tomo Surabaya berpapasan dengan massa PSHT yang sama-sama melintas di Jalan Tambak Osowilangon, Surabaya.

Belum diketahui sebabnya, kedua kubu ini akhirnya bentrok di lokasi tersebut, akan tetapi dapat dibubarkan oleh kepolisian. Sayangnya, ternyata bentrok tidak berhenti sampai disitu saja. Bonek kembali bergerak dengan melakukan penghadangan di kawasan Balongsari, Surabaya.

Tak ayal dua anggota PSHT menjadi korban kebrutalan Bonek mania. Akibat bentrok yang tidak terelakkan, dua anggota PSHT dikabarkan terpaksa harus meregang setelah mendapat pengeroyokan sejumlah massa Bonek yang menghadang di Balongsari.

Menanggapi peristiwa ini pun, Polrestabes Surabaya segera menggelar mediasi dengan melakukan pemanggilan terhadap kedua kubu. Sejumlah perwakilan dari kedua belah pihak langsung didatangkan. Mediasi itu kemudian dilaksanakan di gedung M. Yasin Polrestabes Surabaya.

“Kami hadirkan atau pertemukan kedua kelompok ini agar mempercayakan proses hukum perkara ini kepada Polrestabes Surabaya,” ujar Kapolrestabes Surabaya Kombes Pol M. Iqbal kepada wartawan di sela pertemuan. Dalam kesempatan itu, Iqbal mengaku bersyukur karena kedua kelompok telah menyatakan saling memaafkan. 

Maksum Rusakin, Ketua Cabang PSHT Surabaya yang hadir dalam mediasi tersebut mengatakan jika pihaknya sepakat bahwa kejadian semalam itu adalah musibah yang tidak dikehendaki bersama.

Selanjutnya, pihaknya memastikan akan meredam pergerakan dari segenap anggotanya untuk tidak melakukan tindakan pembalasan dengan alasan apapun. “Saya tekankan kepada segenap anggota untuk menghormati proses hukum yang berlaku di negara ini,” katanya.

Sementara Andi Peci, perwakilan dari bonek, berharap peristiwa kekerasan tersebut akan menjadi yang terakhir bagi bonek dan menyerahkan sepenuhnya proses hukum kepada aparat Polrestabes Surabaya.

“Kami segenap keluarga besar bonek (suporter persebaya) mengucapkan turut berbela sungkawa atas meninggalnya dua sahabat dari Persaudaraan Setia Hati Terate. Semoga ini menjadi pengalaman bagi kami untuk berbuat lebih baik,” tuturnya.

Andi mengaku berada di tempat kejadian perkara (TKP) dan sempat mengantar korban ke rumah sakit terdekat sebelum akhirnya meninggal dunia. Namun kepada wartawan, Andi tidak bersedia membeberkan bagaimana awal mula massa bonek melakukan penghadangan yang menyebabkan dua anggota perguruan silat PSHT itu meninggal dunia.

Ditempat yang sama, Iqbal menambahkan bahwa dua kelompok tersebut pada awalnya bersinggungan saat berpapasan di Jalan Tambak Osowilangon Surabaya pada Sabtu malam (30/9) sekitar pukul 23.00 Wib.

“Saat itu sejumlah anggota PSHT dalam perjalanan pulang setelah menghadiri kegiatan di Gresik. Sedangkan massa bonek dalam perjalanan pulang setelah menyaksikan pertandingan Persebaya melawan Persigo Semeru FC Lumajang di Stadion Gelora Bung Tomo Surabaya,” katanya.

Namun, bentrokan di Jalan Tambak Osowilangon tersebut berhasil digagalkan setelah dibubarkan polisi. Selanjutnya, tanpa diduga massa bonek ternyata terus bergerak melakukan penghadangan di Jalan Raya Balongsari Surabaya pada Minggu dini hari (1/10) sekitar pukul 00.30 Wib. 

Massa bonek kemudian membakar satu unit sepeda motor, yang menyebabkan dua anggota PSHT tewas. “Saat ini kami baru memulai penyelidikan. Dari Andi Peci dan kawan-kawan melalui pertemuan ini saya harap bisa menemukan petunjuk awal penyelidikan,” tandas polisi asal Palembang itu.(zn/asb)